Beranda / Batak Dan Bantal Guling Di Angan Batak Dan Bantal Guling Di Angan Budaya · 14 Agustus 2013 Oleh: Edi Sembiring (Jakarta) Apa itu gelaran sinyo dan noni? Jawabnya mereka adalah keturunan perkawinan Belanda dan pribumi Hindia Belanda. Mereka manusia kelas Dua. Ada yang sempat menjadi kaum partikelir, punya segudang nyai dan budak-budak. Istilah bantal guling pun lahir karena mereka datang tanpa membawa istri. Bantal guling (Dutch wife dalam bahasa Inggris, Red.) tak pernah ada kala mereka hidup di Dataran Eropah. Ketika Belanda kalah dan pulang ke negerinya, mereka seperti kaum yang gamang. Kaki seakan berpijak di dua tempat; Belanda dan indonesia. Keturunan mereka sekarang coba bernostalgia dengan nasi goreng, lagu Rasa Sayange, keroncong di Tong-tong Fair (Pasar Malam Besar di Den Haag), foto-foto lama kakek dan neneknya. Batak? Sejarah kabur yang ditinggalkan oleh pelabelan Eropah dan pelaut yang datang kala pesisir Sumatera menjadi daerah rampokan. Kini? Kata "Batak" dan bantal guling peninggalan goresan perjalanan mereka. Persamaannya, kata "Batak" dan guling adalah realitas mimpi buatan mereka. "Batak" dan guling menyatukan "birahi" mereka. "Batak" dan guling adalah warga Kelas Dua. Ya, ketika guling tak lagi mampu memendam birahi, nyai-nyai menggantikannya dan lahirlah sinyo dan noni. Ketika suku merdeka yang mereka sebut Karo tak dapat ditundukkan, mereka menjebaknya dengan label "Batak." Agar mereka menjadi kaum berbeda dengan Melayu yang mau berkolaborasi. Iklan