Jalan Ngumban Surbakti — Sorasirulo
Sorasirulo

Jalan Ngumban Surbakti

Budaya ·

Oleh: Reinaldo Sembiring Meliala

"Spesies yang bertahan bukan spesies yang terkuat ataupun yang tercerdas melainkan ialah yang mampu beradaptasi dengan perubahan" - Charles Darwin.

Aku kembali membuat tulisan untuk menggugah kesadaran Spesies Karo akan perubahan yang semakin cepat dan dahsyat sekarang ini. Perubahan ini akan menjadi sangat mematikan bagi yang tidak bisa mengikutinya. Perubahan apa yang dimaksud? Kecenderungan sekarang ini ialah sentimen kesukuan akan semakin kuat. Sentimen ini tidak hanya terjadi di Indonesia akan tetapi terjadi di seluruh dunia. Sentimen yang kumaksud bukan hanya negatif, tetapi juga yang bersifat positif. Masyarakat dunia maju semakin memiliki perasaan ini.

Sebagai contoh, kita lihat bagaimana sekarang Eropa sudah mulai mengubah pemikirannya akan kaum pendatang. Merkel (Kanselir Jerman) mengatakan: "Multiculturalism has failed ." Ini sesuatu yang sangat bertentangan dengan keyakinan bangsa Eropa dulunya sehingga mereka membuka channel masuknya imigran ke negara mereka. Saat itu, mereka beranggapan banyaknya budaya akan memperkaya budaya Eropa nantinya. Kalahnya partai berkuasa di Australia juga karena rakyatnya sudah emoh dengan kaum imigran.

Jadi, apa maksudnya cerita ini?

Maksudnya ialah, ketika banyak orang di Negara-negara maju sana sudah berpikir menyelamatkan budayanya (baca: speciesnya) sendiri, pada saat itu kita melihat banyak orang Karo berpikir bahwa pembicaraan mengenai budaya adalah sesuatu yang old fashioned , tidak sexy alias ketinggalan zaman.

Jika masih menganggap sebagai orang KAro tentunya harus pula peduli dengan Karo itu sendiri. Kepedulian ini semakin dituntut karena sekarang ini trend menjadinya Karo sebagai suku inferior/ taklukan semakin jelas.

Kita melihat sekarang dari segi jumlah kita cukup sedikit (website Joshua Project mengatakan bahwa populasi Karo 880 ribu). Banyaknya wilayah tradisional Karo sekarang yang sudah tidak didominasi Karo, sedikitnya posisi puncak yang dimiliki Karo, sangat sedikitnya sekarang orang Karo kuliah di PTN (lupakan dengan cerita masa lalu bahwa SDM orang Karo sangat baik. Dulu di FMIPA USU dominan Karo, sekarang?), tidak ada munculnya pemimpin Karo yang MAU berbicara tentang kemajuan spesiesnya, dll.

Semua itu merupakan tanda akan kemunduran budaya suatu spesies atau bahkan tanda akan punahnya satu budaya. Tidak adanya kelebihan Karo sekarang menjadikan Karo kelihatan lemah. Kelemahan ini sebenarnya sudah terlihat dahulu, ketika terjadi keributan mengenai nama Tahura. Kita tidak belajar dari kasus masa lalu sehingga sekarang terjadi lagi dan besok-besoknya pasti akan terjadi lagi.

Kasus penggantian nama jalan Ngumban Surbakti bukanlah kasus yang sepele. Ada banyak proses pengambilan keputusan di sana. Hal ini akan menimbulkan implikasi besar yang perlu dibicarakan dengan Pemda setempat.

Selepas peristiwa ini kita orang Karo juga harus mengoreksi dan harus mengubah pemikiran dan tindakan kita. Sudah jelas 100% bahwa PEMIKIRAN DAN TINDAKAN kita sudah tidak sesuai dengan zamannya lagi. Kita sudah jauh ketinggalan dari saudara-saudara kita suku lain. Harus ada terobosan baru dari kita. Sikap menggo kita harus diubah. Harus dirubah mindset orang Karo.

Sebagai contoh ialah bagaimana sekarang mindset Tapanuli menganggap mereka adalah bagian dari suku Israel (menggelikan memang), tetapi lihatlah begitu luar biasanya mereka dengan keyakinan itu. Mereka begitu bersatupadu, begitu menguasai segala sektor, dll.

Karo menurutku juga perlu terobosan-terobosan. Seperti yang kita lakukan sekarang ini sudah tidak cocok lagi.

Terobosan ini lebih baik dan lebih cepat efeknya jika melalui organisasi Karo yang ada. Jika hanya bermain individual atau hanya sebatas opini di dunia maya saja, menurutku kita harus pasrah melihat anak cucu kita malu menjadi orang Karo.