Kisah Sedih Menuju Bukum (bagian
Sedikit tenang dan tenaga saya juga sudah mulai pulih. Saya lanjut berjalan.
“ Ku Bukum, dek! Ndauh denga kin Bukum e ?”
Sambungnya lagi dengan pertanyaan: “ Ja nari kin kam e ras erkai atendu ku Bukum ?”
Jawab saya datar sembari menarik nafas panjang (maklum sudah keletihan):
“Aku Medan nari, dek!” Menghela nafas, lalu: “ Labo erkai pe, dalin-dalin saja .”
“Piga nomor rumahndu, bang?” tanyanya lagi.