Kolom M.u. Ginting: Batak Dan Bukan
Istilah ’Batak’ dan ’bukan Batak’ telah menjadi fenomena baru dunia, yang sebetulnya berasal dari Sumatera bagian Utara. Sumber serta penonjolan istilah ’Batak’ berasal dari satu suku yang bernama Toba tetapi mengaku ’Batak’ dan dikenal hanya sebagai ’Batak’. Istilah lainnya ’bukan Batak’, berasal dari 4 suku lainnya di Sumut yaitu Karo, Pakpak, Mandailing dan Simalungun. Pengertian siapa ’Batak’ dan siapa ’bukan Batak’ telah menjadi diskurs terkenal di Indonesia dan dunia karena di dalamnya terkandung pengertian baru dan pengetahuan baru antropologis dan yang ’terpaksa’ dipahami, umumnya supaya tidak bikin ’kesalahan’ yang mungkin bisa serius dan berakibat ’tak enak’ bagi tiap orang. Dan, kalau tak mengerti, bisa juga malah dianggap terlalu ’rendah’ pengetahuannya tentang suku-suku negerinya sendiri, atau bisa ’menghina’.
Di bawah ini saya kutip dari berbagai website:
http://tanobatak.wordpress.com/2010/07/21/kenapa-harus-karo-bukan-batak/ Beberapa Pengertian Budaya:
Menurut professor yang orang Batak Bungaran Simanjuntak, asal usul orang Batak (’penunggang kuda’) datang dari Taiwan (Pilipina) sekitar 2500 tahun yang lalu. Orang Karo dan Gayo menurut penemuan terakhir adalah manusia dengan budaya tertua didunia yang pernah ditemukan dan sudah berumur 7400 th.http://www.setkab.go.id/nusantara-4750-tim-arkeologi-balar-temukan-fosil-berusia-7400-tahun-di-aceh-tengah.html
Mandailing Bukan Batak: Toba dan Mandailing banyak sekali persamaan kosa katanya, tetapi Mandailing Bukan Batak bisa terbaca di banyak site. http://doharharahap.blogspot.se/2011/03/mandailing-bukan-batak.html
’Simalungun Bukan Batak’, https://www.facebook.com/notes/brd-silalahi/simalungun-bukan-batak/169937849880347
Pakpak Bukan Batak, http://pakpakbharatblog.blogspot.se/2012/05/suku-pakpak-bukan-batak.html
Karo Bukan Batak, banyak sekali site-nya dan sedang rame di FB Jamburta Merga Silima.
Apakah di sini soal ’penghinaan’ atau soal jati-diri, integritas/selfrespect atau selfesteem? Kalau orang Karo, Pakpak, Simalungun berdiri sendiri sebagai etnis punya jatidiri dan integrity sendiri tak perlu etnis lain atau yang merasa dirinya bagian dari etnis lain ’merasa terhina’. Self-esteem, Integrity, Identity ada pada tiap etnis, tak bisa terpisah dari etnisnya. Acara menangguk ikan (Ndurung) di Tambak Beringin (Sugihen, Dataran Tinggi Karo) dalam menyongsong acara Kerja Tahun (Foto: Eka Prima)[/caption]