Kolom M.u. Ginting: Siapa Anak — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom M.u. Ginting: Siapa Anak

Budaya ·
Penarune Sanggar Seni Sirulo yang juga pembuat sarune, Jabal Sembiring, dengan mejelimet merapikan 'anak-anak sarune' yang sangat halus dan lembut sehingga suara sarune Karo kedengaran juga bening dan nyaring[/caption]

“Siapa anak Karo?” kata ketua PDIP Megawati beberapa hari lalu sehubungan dengan bencana meletusnya Gunung Sinabung. Mengapa Megawati tidak bertanya siapa anak ’Batak Karo’? Pastilah karena beliau sudah paham arti yang sangat mendalam gerakan pencerahan KBB yang secara gamblang dan ilmiah menggali kembali kelahiran istilah ’batak’ seperti yang dilukiskan oleh sejarawan Unimed Azhari dan Daniel Perret.

Dari kesimpulan pengalaman Karo sendiri sudah semakin jelas bahwa ’Batak’ adalah satu organisasi politik (etnis) yang lengkap dan utuh, dari daerah sampai ke Pusat dan dari anak-anak sampai ke orang dewasa. Banyak contoh yang sudah dikemukakan dalam berbagai media Karo.

Ketika SBY ke Karo 2010, ada organisasi ’Horas’ dalam menyambut SBY di Kabanjahe. Di sini anak-anak diorganisasi jadi ’dewasa’. Pada era lalu dan juga masih ada sekarang (?) fenomena ’Karo jadi Ketua’, seperti di London (Natal/ Tahun Baru) sampai 2012, tetapi sudah tak ada 2013. Arah perubahan jelas.

Menjadikan Aksara Karo jadi Aksara Batak, walaupun jelas tidak semua huruf yang ada di Akasar Karo tidak bisa diucapkan dalam bahasa ’Batak’ lain, sehingga tak diikutkan. Jelas siapa yang menirukan, karena tak mungkin diciptakan serentak oleh 5 ’Batak’, sama semua hurufnya kecuali 3 huruf yang ada di Karo tetapi tak ada di ’Batak’ lain karena cocoknya hanya dengan mulut Karo.

Bilang-bilang Karo jadi ’bilang bilang Batak’. Sanggar Seni sirulo menghibur pengungsi Sinabung di tahun 2010.[/caption]

Daliken sitelu Karo (rakut sitelu) dijadikan Dalihan Natolu Batak, tetapi jelas seperti dipaksakan, hanya nama, karena dasar filsafatnya sangat berlainan atau berkebalikan. Dalam Daliken Sitelu Karo, kalimbubu adalah Dibata Nidah, yang tertinggi dalam ’hierarki’ Karo. Ini mungkin karena filsafat hidup ’sikuningen radu megersing, siagengen radu mbiring (win/ win solution). Dalam Dalihan Natolu, mengikuti filsafat hidup orang Batak seperti yang dilukiskan oleh DR RE Nainggolan: ’orang Batak di bawah sadarnya menghayati kehidupan seperti perlombaan dan dia ingin menang’. Hierarki di sini ialah memuja yang menang dalam perlombaan ( hasangapon dan hamoraon ), bukan kalimbubu Dibata nidah. Kalimbubu yang ’panceret’ dalam perlombaan itu tahu sendiri dimana dia akan ditempatkan.

”Klo org karo memang bukan dr batak knpa hrs pke marga.? Bkn kah marga2 klian org karo bkn dr toba, simalungun, dn pakpak..? Klo emg karo suku yg berdiri sndiri apakah ada sejarahnya.? Apa kah ada raja karo.? Stau gua yg ada raja batak dr toba, purba dr simalungun, lingga dr pakpak, siregar dr tapsel. Emg dr etnis batak yg lain cuma sub suku karo aja yg paling menghindar…merusak adat suku etnis batak aja..”http://hermanangkola.wordpress.com/2011/10/07/apa-sebab-org-karo-tak-mau-disebut-org-batak/

"Kalau adek-adek pergi ke Sumatra Utara, Gunung Sinabungnya meletus. Siapa anak Karo? Nah, kamu kamu boleh liat negerimu, itu tempat sayur yang bagus sekali, mereka nangis karena harga kubis wortel jatuh karena tidak dilindungi pemerintah. Masak pemimpin liat bangsanya megap-megap diam saja," tegasnya.

http://news.detik.com/read/2013/11/30/111223/2428408/10/mega-saya-teriak-jangan-impor-bukan-berarti-anti-impor Para pengungsi Sinabung dibuat senang oleh penghiburan dari Sanggar Seni Sirulo (2010)[/caption]