Kolom M.u. Ginting (swedia): Budaya Dan
”Kebudayaan adalah bagaimana memperlakukan masyarakat,” kata Jokowi. Sungguh simpel, semua mengerti dan tak perlu banyak cingcongnya. Jadi, budaya saya ialah bagaimana saya memperlakukan anda, bagaimana golongan saya memperlakukan golongan anda, bagaimana kekuasaan memperlakukan rakyat. Atau, sekarang, bagaimana kekuasaan global (ekonomi) memperlakukan satu nation tertentu atau nation-nation dunia. Bukankah ini sederhana tetapi 100% sejati?
Lebih luas lagi dari suasana kejadian-kejadian yang lalu ialah bagaimana satu golongan tertentu dengan budaya/ kultur tertentu diperlakukan oleh pemerintah atau oleh golongan lain dari kultur yang berlainan. Dalam era cultural/ ethnic revival dunia, soal inilah yang telah menjadi sebab utama perang etnis dengan korbannya yang sangat banyak. Banyak korban tetapi banyak pelajaran.
Fase perang etnis ini kelihatannya sudah akan lewat dan sudah memasuki fase ’memahami perbedaan’ terutama dari segi kultur/ budaya yang berlainan, yang sekarang pindah ke elit (politik, korupsi, dll). Atau seperti Karlina pernah bilang 2010 bahwa “people were smarter and more critical now and would not easily be influenced by conflict at the elite level ”.