Namoriam: Dari Petani Pangan Ke Petani Komoditas Dan Petani
Namoriam adalah salah satu desa dari 25 desa yang ada di Kecamatan Pancurbatu (Kabupaten Deliserdang). Berjarak kira-kira 5 km dari kota kecamatan ke arah daerah wisata Berastagi. Desa Namoriam terletak pada ketinggian 60 m di atas permukaan laut, dimana kontur tanahnya berupa dataran dan landai. Dengan jumlah penduduk kurang lebih 1300 jiwa.
Penduduk Desa Namoriam sebagian besar menggantungkan hidupnya dari pertanian. Tanaman yang paling diminati adalah tanaman belimbing dimana hampir semua warga yang berprofesi sebagai petani mempunyai tanaman belimbing di tanahnya.
Di samping itu, sebagian warga telah menjadi petani pengontrak lahan dan sebagian menjadi buruh di perkebunan yang ada di desa tersebut. Hal ini dikarenakan tidak ada lagi tanah sendiri yang bisa dikelola untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Awalnya masyarakat Desa Namoriam berprofesi sebagai petani pangan, namun seiring dengan perkembangannya dan berbagai persoalan yang muncul mengharuskan mereka untuk kemudian beralih profesi menjad petani komoditas dan sebagian penggarap dan juga menjadi buruh tani. Petani Pangan
Awal kedatangan masyarakat ke Desa Namoriam adalah sebagai pekerja perkebunan pada perkebunan tembakau di masa kolonial. Namun setelah revolusi Agustus 1945 kehidupan merekapun berubah. Semua warga kemudian mengelola lahan-lahan kosong untuk dijadikan sebagai lahan pertanian. Sejak saat itu, masyarakat Desa Namoriam menggantungkan hidupnya dari menanam padi di sawah dan tanam-tanaman hortikultura. Mereka mengelola lahan pertanian mereka untuk hanya sekedar memenuhi kebutuhan subsisten mereka.
Pada perkembangan selanjutnya, pertanian di Desa Namoriam semakin maju berkat bagusnya sistem irigasi sebagai sumber pengairan bagi sawah-sawah mereka. Sehingga, pada sekitar awal tahun 80-an Desa Namoriam pernah menjadi lumbung beras di Kecamatan Pancurbatu. Ini berkat keberhasilan mereka dalam mengelola dan meningkatkan produksi sawah mereka. Walau tidak lama, namun cukup untuk sekedar mengingatkan bahwa Desa Namoriam pernah mengalami masa kejayaan pada pertanian pangan yang akhir-akhir ini tidak bisa ditemukan.
Masa keemasan tersebut tidak berlangsung lama karena sekitar tahun 80 an juga terjadi gempa bumi yang mengakibatkan tanggul sebagai sumber pengairan utama sawah di Namoriam jebol. Kerusakan tanggul mengakibatkan sawah-sawah yang memang menggantungkan pengairannya dari tanggul mengering dan sulit untuk dikelola. Sejak itu juga, sistem pengairan di Desa Namoriam hanya bergantung kepada turunnya hujan dari langit. Sawah-sawah mereka berubah menjadi sawah tadah hujan yang seringkali mengalami masa kekeringan yang lebih lama dibanding mendapat air hujan.
Akibat perubahan kondisi ini petani Namoriam tidak lagi mampu untuk meningkatkan hasil produksinya bahkan untuk sekedar mencapai hasil normal seperti biasa juga tidak mampu. Bahkan banyak sawah mereka yang kemudian menjadi lahan tidur karena tidak dikelola. Tidak sampai di situ saja, keadaan semakin diperparah oleh mahalnya sarana produksi yang harus ditanggung oleh petani seperti bibit, obat-obatan dan pupuk. Sementara itu, harga yang diharapkan petani mampu untuk mengembalikan biaya produksi yang begitu mahal tidak tercapai, malah harga beras tidak sebanding dengan kenaikan harga pupuk yang jauh melambung tinggi.
Satu per satu petani kemudian beralih ke tanaman perkebunan yang jauh lebih ringan untuk memeliharanya. Para petani kemudian menanam buah-buahan dan tanam-tanaman yang bisa tumbuh di lahan kering seperti ubi, jagung dan buah-buahan seperti jambu klutuk, jeruk, rambutan, duku dan lain-lain. Pada saat yang sama diperkenalkan tanaman belimbing yang cukup potensial untuk ditanam di daerah Namoriam. Di samping pengelolaannya yang lebih ringan, tanaman belimbing juga lebih mudah dipelihara dan lebih tahan terhadap penyakit. Tanaman belimbing juga bisa menghasilkan buah terus-menerus di samping panen besar yang tentu saja bisa menopang pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Menjadi Petani Komoditas
Melihat beberapa keunggulan dari tanaman belimbing dibanding tanaman-tanaman lain membuat masyarakat kemudian semakin tertarik untuk menanamnya. Tidak memakan waktu begitu lama, tanaman belimbing sudah menjadi tanaman yang menghiasi setiap kebun/ladang masyarakat.
Hampir semua orang mengkonversi lahannya menjadi lahan belimbing. Mengubah profesi mereka dari petani pangan menjadi petani belimbing. Untuk saat ini, hanya sebagian kecil petani yang masih mempertahankan sawah mereka. Itupun karena masih mempunyai sumber mata air sebagai pengairan utama.
Pertanian belimbing awalnya cukup memberi angin segar bagi masyarakat Desa Namoriam karena sedikit banyak bisa meringankan pekerjaan mereka. Betapa tidak, perawataan belimbing dewasa tidak terlalu membutuhkan waktu yang intensif. Contoh untuk pembersihan lahan karena rumput liar tidak terlalu cepat berkembang di bawah pohon belimbing yang terlindung dari sinar matahari. Yang paling dibutuhkan adalah penyemprotan untuk mencegah tanaman dan buah terserang hama dan jamur. Sementara, sambil menunggu panen tiba, masyarakat bisa mengerjakan pekerjaan lain untuk menutupi kebutuhan lain. Artinya ,mereka bisa mencari pekerjaan sampingan tanpa harus mengganggu pekerjaan pokok yaitu merawat tanaman belimbing.
Namun, apakah tanaman belimbing ini memberikan kesejahteraan nyata kepada mereka? Ini menjadi pertanyaan yang perlu dijawab dengan penuh hati-hati. Mengapa tidak, faktor alam menjadi salah satu hal yang membuat kita berhati-hati untuk menjawab. Masyarakat Namoriam yang memang masih menggunakan cara-cara tradisional dalam mengelola pertaniannya juga bergantung pada alam yang menentukan petaniannya. Memang pada proses pengelolalaannya, masyarakat menggunakan pupuk dan obat-obatan untuk menjaga agar tanaman belimbing tetap tumbuh subur, namun semakin hari harga pupuk dan obat-obatan juga semakin mahal. Sehingga tidak terjangkau petani. Penampilan Teater Rakyat (Tera) SIRULO di Kerja Tahun Desa Tanjung Barus (Kecamatan Barusjahe, Kabupaten Karo) (Foto: Muslim Ramli)[/caption]