Newin Barus: Terangilah Dengan
BETLEHEM KETAREN. BERASTAGI. Jam di ruang tamu Paroki menunjukkan Pkl. 12.30. Seribuan umat yang tadi merayakan imannya di gereja itu telah pulang ke rumahnya masing-masing dan mungkin telah mengerjakan aneka pekerjaan. Tiada lagi suara memutar kenderaan atau suara erlebuh mulih . Suaraku dan suara Pak Sembiring Kembaren yang kuwawancarai, yang tadi bertalu-talu bagai gendang di palu, gayung bersambut bagai pantun diadu juga sudah tiada lagi seiring Pak Sembiring telah berlalu pulang.
“Oh, tidak. Majalah kita itu sudah lama berhenti. Mau ditulis di Tabloid Sora Sirulo,” kataku.
Newin Barus (40 Tahun) pengrajin Lilin dari Tanjungbarus
“Aku kutandai kam, bang. Rusur kam kuidah mere pengajaren i gereja Tanjungbarus.” katanya lagi.
Perkatan-perkataannya membuatku duduk kembali duduk dan mendengarkan perkataan-perkataannya.
Newin Barus sedang berdiri, badannya tak lebih tinggi dengan ketika duduk.
“Lalu bagaimana ceritanya sampai jadi pengrajin lilin?” Tanya Sora Sirulo.