Perlawanan ‘halus’: Kesejarahanku Beda Dengan — Sorasirulo
Sorasirulo

Perlawanan ‘halus’: Kesejarahanku Beda Dengan

Budaya ·
SANGAR SENI SIRULO BENTENG BUDAYA KARO (Foto: Alex Ginting)[/caption] Oleh: Christa Ametha Sembiring (UGM, Yogjakarta)

Soal identitas sekarang ini banyak membuat orang sering berselisih paham, bahkan satu kelompok yang secara umumpun perlu lagi membedakan dirinya. Tidak usah jauh-jauh, orang Karopun suka juga memberi pembeda antara Karo Gugung, Karo jahe, Karo Langkat atau Karo Deli. Tetapi kalau menghadapi identitas lainnya dengan penanda yang lebih beda, semua identitas yang lebih halus bedanya itu pasti bersatu, apalagi ada hubungannya dengan karakter penamaannya. Wah... jadi menarik ya, karena ternyata identitas itu banyak lapisan-lapisannya dan bertumpuk-tumpuk.

Orang Sunda tidak mau dibilang Jawa, Madura juga tidak mau dibilang Jawa, Kraton Surakarta juga selalu membedakan dirinya dengan Karaton Yogyakarta.

Sekedar berbagi pengalaman saja, saya sebagai mahasiswa Karo yang sedang kuliah di Yogyakarta sering agak repot merespon teman-teman yang kadang menanyakan: “Kamu dari Medan bilang kamu orang Karo, bukannya Batak?”

Nah, repot kan menjelaskannya, karena tidak bisa singkat nuri-nur nya ke mereka yang hanya tau kalau Medan atau Sumatera ya “ wong B atak ...” Paling aku hanya bilang, “lha kenapa orang Sunda dan Madura gak mau dibilang Jawa, hayo?” Aku cukup bilang gitu aja, trus aku bilang lagi, “kurang lebih kayak gitu. Rumit menjelaskannya!”

Tetapi aku jadi berpikir, apakah serumit itu? Atau barangkali diperumit oleh orang atau kelompok tertentu yang punya kepentingan dengan identitas-identitas itu? Itu kalau aku bepikir sambil makan di warung makan sepulang kuliah.

Tetapi setelah kupikir panjang dan jauh, apalagi setelah baca isu mengenai politik kebudayaan katanya, ya... penting juga.. bahkan sangat penting. Bagaimana tidak, pikirku, karena tiap kelompok kan punya kesejarahan sendiri, ada sejarah budaya yang panjang, bahkan mungkin berabad-abad. Punya konteks lingkungan alam, dan sosialnya sendiri-sendiri. Ada perjuangannya dan pahlawannya sendiri, kok terus mau disatukan dalam satu nama besar tertentu yang bisa menghilangkan konteks kesejarahan itu?

Eits tunggu dulu.. ya, jelaslah gak mau.... Sedangkan sejarah keluargaku sendiri aja gak mau disatukan dengan Sembiring lain. Aku yang Sembiring Kembaren ini yang punya sejarah beda dengan Meliala, Colia, Brahmana, masak mau diabaikan (ini juga masih berdasarkan sumber bacaan). Ya repotlah memang kalau begitu.

Manalagi ada aturan main sendiri-sendiri. Kalau Kembaren tidak boleh saling menikah, tetapi ada sesama Sembiring lain sibuaten . Nah.. bagaimana bisa dihilangkan identitas pembeda Sembiring apa tepat istilah saya ada pembeda ‘halus’nya itu.

Yah..memang rumit. apalagi dalam konteks pembeda antara Karo dan tetangganya yang bukan Karo. Tinggal juga bertetangga dengan Tanah Karo si Malem, waduh... saya paham perjuangan identitas itu sekarang. Setidaknya berusaha memahami. Tetapi, sekali lagi, sulit menjelaskan itu pada orang-orang yang hanya kenal Medan identik dengan Batak. Apalagi pembeda itu dulunya pernah diaminkan oleh para sejarawan atau kaum cerdik pandai negeri ini dalam buku-buku yang beredar di mancanegara. Jadilah dia terkesan “sama”, padahal “beda”.

Itulah dia salah satu bukti kekuasaan tulisan. Repotlah kita yang turunannya sekarang memperbaiki kesalahan tulisan-tulisan dan kekuasaan tulisan-tulisan lama yang sudah dibangun itu.

Mari kita bangun kembali pelan-pelan!