Renungan: Nasib Seniman Tradisional Karo Ke
Kadang rasa cemburu sering menggubrak hati, sebagai saya asli keturunan Karo yang dianugrahi bakat bermain musik tradisional Karo. Ketika saya mendengarkan asyiknya suara tabuhan taganing dan pasangan setianya saruling, dengan teriakan “haaiimmbbaaadaaa-ima tutu.” Itu sabagai kata-kata penyemangat dari penikmat maupun pemusik.
Tapi, musik Karo juga gak kalah asyik, kok. Kitanya ajanya yang kurang jeli melihat celah. Malah kita sibuk bersungut-sungut: “Kalak ah nge lalap idah. Kita kalak Karo énda lo pernah idah .” Di sini kita perlu menyadari bahwa kita sibuk mengurusi faktor eksternal sedangkan internal kita tetap rapuh.
Pengalaman sedih ketika pas tanggal 17 Agustus 2012, saat merayakan Hari Kemerdekaan RI. Semua rakyat Karo yang ada di sekitar Kota Kabanjahe pasti datang menyaksikan Pawai iringan drumband. Saya salut pada salah satu perguruan swasta yang tetap setia dengan iringan tarian gundala-gundala hingga di pertunjukan di depan Bupati Karo dengan tingkah polah para gundala-gundala menghibur hingga menakut-nakuti anak-anak dan penonton lainnya,
Tapi, ada sesuatu yang membuat saya termenung di tengah keramaian itu, ketika saya mendengarkan suara teriakan anak-anak. “Éna kéna naké!!!! Éna enggo mentas SI GALE-GALE. Ula kari kéna ayakna. ”.
Waduh! Jelas itu namanya gundala-gundala atau tembut-tembut . Sedihnya, bukan hanya anak yang satu itu yang berkata-kata seperti itu. Banyak..!!!
Saya juga pernah menghadiri sebuah acara kerja tahun di daerah sekitar Binjai. Ketika melihat Karang Taruna menari, Nannndeeeii mela kel aku ngenensaa. Lalit ETIKA na landek . Dengan iringan musik dance. Apakah kita tidak malu kepada para orangtua yang menyaksikannya?