Sedikit Tambahan Pendapat Soal Refleksi
Situasi terakhir dalam perkembangan setelah gesit-gesitnya KBB bikin pencerahan, diskusi dan debat di dunia maya atau nyata. Dengan bertambah luasnya anak-anak muda Karo ambil bagian dalam gerakan ini, sangat terlihat kemajuan pesat terutama secara psikologis bagi Karo dan orang Batak sendiri, bahwa: Karo memang bukan sembarangan etnis seperti yang diduga selama ini. Ini hanya berlangsung selama Karo tadinya masih 'diam serta hanya merendah dan jujur' saja modalnya.
Aksara Karo dibikin jadi 'aksara batak', walaupun jelas tidak semua huruf sesuai dengan mulut batak, tetapi sesuai semua dengan mulut Karo. Filsafat hidup Karo Daliken Sitelu yang sudah berumur 7400 tahn pada era kemerdekaan oleh intelektual Batak dijiplak jadi 'Dalihan Natolu' sebagai filsafat Batak. Bedanya jelas, aslinya 'dalikan sitelu' dimana kalimbubu sebagai dibata nidah , dalam Dalihan Natolu ini tak mungkin, karena filsafat hidup Batak 'menghayati kehidupan sebagai perlombaan' (DR RE Nainggolan). Dalam Daliken Sitelu Karo (rakut sitelu) 'sikungingen radu megersing, siagengen radu mbiring'. Hanya ini yang memungkinkan kalimbubu sebagai dibata nidah . Kalau dalam hidup sebagai perlombaan, siapa yang menang itulah kalimbubu. Penampilan Teater Rakyat (Tera) SIRULO di Kerja Tahun Desa Tanjung Barus (Kecamatan Barusjahe, Kabupaten Karo) (Foto: Muslim Ramli)[/caption]