Beranda / Tenda Tenda Budaya · 7 September 2013 Oleh: Fernando Thomas Sembiring (Depok) Pada kekosongan ini aku menanti kamu sebagai isi, Kekasih Aku yang mengoleksi kenangan dengan harapan Suatu saat kau datang dan menutup lembar kerinduan ini Berpayung malam di kesendirian, sepi tak terelakan aku, hanyut pada senyuman yang menemaniku di sebuah tenda makan hingga tengah malam. Saat itu kita hanya berjarak sejauh meja makan, diam-diam aku mencuri pandang.Malam itu kuingat dua hari bulan menghilang dan kutemui dia ada di sebuah senyuman. Dalam rangkaian percakapan, kutatap matamu jauh ke dalam belum sampai ke. dasar, aku sudah tak tahan untuk bilang: "Aku jatuh cinta padamu, sayang". Aku tak peduli dengan dingin dan pekatnya malam, senyummu tak membuat ngantuk, tak membuatku takut merasa sayang. Aku mengabadikan senyummu dalam ingatan dan kini 'ku bagikan pada yang entah namanya sajak, puisi atau coretan. Aku hanyut di sedetik senyuman dan tertusuk tajam sudut matamu Hai, Puan, pada tiap kata ini aku datang dan merangkai malam dalam satuan ingatan. Kita yang berjarak hanya semeja makan, berhadapan, dan memulai perjumpaan mata kita bertatapan dan kunikmati senyummu yang menggemaskan. Kalau sudah boleh aku memanggilmu "Sayang" tolong katakan, Kalau tak bisa juga katakan agar kata-kata ini tau untuk apa mereka terangkai Hei kamu, gadis yg menghanyutkanku pada senyuman, yang menusukku tajam dengan tatapan, Sudikah kau membesarkan puisi yang sudah kulahirkan? Mungkin ini terlihat berlebihan, namun bersamamu hingga tengah malam membuatku semakin tenggelam pada perasaan. Kalau boleh, ijinkan aku menjumpaimu walau dalam mimpi, begitupun yang kusebut ini puisi. Iklan