Tolé Mamana: Diolah Ulang Dari Senandung Karo Riwayat
"Burung-burung pua keparat! Tidak tahu diri!" makinya gemas sambil menyentakkan tali pengusir.
Ah, eh, Itu suara memanggilnya halus. Ya, suara itu dari bawah pantar.
“Mamaa Mamaa Nande memintaku mengantarkan makan siang. Ini aku datang. Aku ada di bawah.”
“Mamaa Mamaa Nande memintaku mengantarkan makan siang. Ini aku datang. Aky ada di bawah.”
“Naiklah selangkah di atas anak tangga, bawalah ke atas, Mama makan di sini saja.”
“Naiklah selangkah lagi, bawalah ke atas. Mama makan di sini.”
“Naiklah selangkah lagi, bawalah ke atas. Mama makan di sini.”
“Naiklah, bawalah ke atas. Mama makan di sini.”
“Mari, siapkanlah pencuci tangan. Kita makan bersama.”
“Tidak, Mama. Tidak lazim engkau dan aku berdua di tempat ini.”
“Mari, makan telah usai. Saatnya kita berbaring.”
“Tidak, Mama. Tidak lazim engkau dan aku berdua di tempat ini.”
“Mari, berbaringlah di sebelahku. Selimut ini cukup untukmu dan untukku.”
“Tidak, Mama. Tidak lazim engkau dan aku berdua di tempat ini.”
Matahari terang benderang, petang masih jauh. Angin sedikit kencang. Mereka terus bercinta. Beru Tole tidak ingat pulang, tidak ingat Nande dan Bapa yang menunggunya di rumah. Lelaki itu telah merubah dunianya. Lelaki itulah dunianya. Sampai Beru Tole mengandung dan melahirkan anaknya. Tangisan anaknya kencang membelah cakrawala. Penampilan Tera (Teater Rakyat) SIRULO[/caption]
“Toleee Toleee Dimana kam, anakku? Aku, Bapamu, adikmu dan kakakmu mencarimu.”
Beru Tole mendengar suara ibunya berduka memanggilnya. Air matanya menitik sambil memangku bayinya.
“Toleee Toleee Di mana kam , Anakku? Aku, Bapamu, adikmu dan kakamu mencarimu.”
“Tole, aku mendengar suara tangisan bayi, bayi siapakah itu di atas?”
“Nande, itu suara anak kucing Mama.”
“Tole, ini, ini, ada darah menetes dari atas pantar , darah apakah ini, Anakku?”
“Nande, telah lahir anak kucing Mama.”
“Apakah alam dan takdir tidak memberikan padaku jalan lain, untuk melihatmu bertiga?”