Bahasa Ibu
Semua sudah berubah. Lingkungan berubah bahkan makananya pun ikut berubah. Komposisi penduduk sudah sangat berbeda. Tetangga pe enggo kalak sideban kerina. E maka rende kerina tiap berngi.
Karena tidak pernah terkontaminasi oleh sistem masa lalu, maka saya masih mewarisi sifat-sifat kalak Karo yang saya peroleh dari kedua orangtua saya. Setelah absen dari penggunaan bahasa Karo selama berpuluh-puluh tahun ketika pulang ke Medan, saya tidak berbahasa Inggris ataupun bahasa Indonesia. Saya merasa saya di rumah sendiri dan, aneh memang, yang muncul di kepala saya cuma bahasa Karo.
Semua orang yang saya jumpai di USU saya ajak berbahasa Karo. Saya lupa, sementara banyak orang Karo yang merasa malu berbahasa Karo. Misalnya minggu yang lalu saya pergi ke dokter THT. Saya tahu semua pegawainya orang Karo. Ketika saya berbahasa Karo kepada salah seorang perawatnya, dia menjawab dengan bahasa Indonesia dan agak membentak. Saya sangat terkejut mereka memperlakukan pasien dengan sangat tidak hormat dibandingkan dengan perawat di Jakarta apalagi kalau dibandingkan dengan perawat di dunia Barat.
Pada kunjungan saya yang ke dua, saya disuruh berbaring sambil menunggu pembersihan kuping saya ketika HP saya berdering. Rupanya itu dari teman saya yang tidak pandai bahasa Karo jadi mau tidak mau saya berbahasa Indonesia dengan sangat lancarnya. Rupanya si perawat mendengarkan percakapan saya. Dia berubah menjadi ramah dan mengatakan dengan bahasa Karo yang sangat fasih: “Kak, adi ndarat kam kari ula matekendu lampu e, ya?”