Beidar: Si Hitam Dari Sinabung Menuju
KAMBING HUTAN SUMATERA SUMATRAN SEROW (Capriconis Sumatraensis sumatraensin) Oleh : Elkana Sasta Gurusinga (Medan) Ketika Taneh Karo dihentak dengan bencana erupsi Gunung Sinabung, puluhan ribu warga harus menggungsi dari Kuta. Gunung Sinabung terus mengalami peningkatan level hingga ke leve IV (Awas). "Status Gunung Api Sinabung masih Awas (level IV)," kata Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho . Gunung Sinabung tak kunjung usai menyudahi geliatnya, rentetan erupsi dengan semburan debu vulkanik dan awan panas serta guguran lava pijar dan bumi bergetar. Awan panas menyapu hutan Sinabung dan lahan pertanian warga serta perkampungan. Hutan pun meranggas kering kerontang hilang kehidupan liarnya dan tak hijau lagi. Satwa-satwa pun lari menyelamatkan diri meninggalkan habitatnya, tapi tak seberuntung manusia yang mendapat batuan tanggap darurat dan ditempatkan dibeberapa titik pengungsian. Salah satu satwa yang sangat langka yaitu Kambing Hutan Sumatera, Sumatran Serow (Capriconis Sumatraensis sumatraensis) (Kalak Karo menyebutnya Beidar) telah turun dari gunung. Sontak terjadi kehebohan karena si Kambing Hutan Sumatera satwa yang sangat langka dan terancam punah. Satwa ini hanya terdapat di hutan tropis Sumatera (satwa endemik Sumatera). Oleh International Union for the Conservation of Nature (IUCN), Kambing Hutan Sumatera, Sumatran Serow ( Capriconis Sumatraensis sumatraensis ) dikategorikan ke dalam status genting ( endangered , red ) yang artinya: spesies dengan risiko kepunahan amat tinggi di waktu mendatang. Hingga saat ini populasi Beidar tidak diketahui jumlahnya di habitar liarnya. Setalah ditemukannya seekor Beidar di pemukiman warga oleh Zulkarnain Milala (33) warga Desa Berastepu, Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumut, Ristanto, dalam keterangannya kepada wartawan menyatakan, kambing itu mati sekitar pukul 20.00 WIB di Medan Zoo, pada Jumat, 17 Januari. Sudah sempat dilakukan penanganan, namun kondisi kesehatannya sudah memburuk.