Billy Dan — Sorasirulo
Sorasirulo

Billy Dan

Budaya ·
Billy Dan
Oleh: Pdt. Mindawati Perangin-angin PhD ”Sekolah tanpa perpustakaan bagiku bukan sekolah. Pelajar tanpa buku bagiku bukan pelajar. Pusat dari sekolah adalah perpustakaan, bukan guru” (Minda Peranging-angin, 2004).

Pernyataan di atas adalah cuplikan dari tulisan saya ketika penerbit Gramedia meminta kontribusi beberapa orang untuk menuliskan pikiran mereka akan buku, sebagai puncak perayaan ulang tahun Gramedia yang ke 40. Kumpulan tulisan-tulisan itu diberi judul, Bukuku Kakiku.

Dan, sayapun senang, bukan karena banyak yang mengaminkannya, tapi karena Billy hidup di dalam pernyataan saya itu. Kalau saya dengan buku, tak usahlah diceritakan, tapi kalau Billy? Dia memang pernah berkata: "Mama, tolong jangan bawa pulang buku lagi ke rumah." Itu dikatakannya karena rumah kami isinya hanya buku. Kalau ada kursi itupun karena malu hati jika tamu dating. Mau ditaruh dimana?

Mudah mudahan nanti ada rejeki, jika rumhnya besar, ada ruangan sendiri untuk menempatkan buku-buku itu. Cuma saja, kalau kami ke Gramedia atau Karsa Murni, Billy lupa apa yang dikatakannya. Lalu, ya, ia beli buku juga.

Semalam, sepulang Billy dari sekolah ia berkata, "Ma, Perpus sekolah sudah dibuka. Adek sudah bisa minjam buku."

Setelah ganti baju, ia makan sambil menikmati buku bacaannya. Mamanya yang rindu berbicara tidak diopeni karena dia sibuk dengan bacaannya. Mamanya pun capek. Mamanya malah tertidur dan, ketika bangun, Billy sudah mandi dan masih terus baca. Walah, bagaimana caranya agar Mama bisa bicara?

"Dek, mama mau mandi. Setelah itu, kita keluar beli minuman dan snack untuk kita bisas santai nanti malam, ya," mamanya berkata.

Di situlah Mamanya dapat cerita tentang olimpic fisika, kimia, sepuluh besar yang akan dipindahkan ke kelas A1.

"Adek kasih Mama buku fisika dan Kimianya biar kita belajar sama."

"Besok saja, Ma, malam ini kita santai dulu."

Ha ha, itu artinya nonton bersama sambil minum dan makan santai. Billy dan saya suka baca dan nonton.

"Ma, nanti beli film Lucynya itu. Dia bisa menggunakan brainnya seratus persen kan karena zat kimia."

"Ya ya,: saya bilang.

"But, you know, kita adalah anak roh dan kita adalah roh. Kita bisa menggunakan seratus persen otak kita tanpa zat kimia tapi pelatihan spiritualitas, dari roh kembali ke roh. Masih ingat Adek film yg kita tonton bersama rohnya keluar dari badannya dan berjalan, dan rohnya melihat badannya berbaring."

Sepulang dari Amerika beberapa tahun lalu, saya membawa booklet dan dvd tentang ini. Di Manhattan (New York) ada institute tentang ini. Cuma, waktu itu saya harus pulang, Jadi, tidal sempat berdialog dengan Doktor-doktorny.

"Ya, iya, Ma.. nantilah jika sempat Adek tonton lagi DVD itu." Nach...

Sebenarnya tidak susah membuat anak suka membaca, suka belajar, suka berdoa, kalau dia selalu melihat Mamanya atau orang di dekatnya juga selalu membaca, selalu belajar dan selalu berdoa. Tidak percaya? Cobalah...... // //