Beranda / Generasi Muda Karo Yang Generasi Muda Karo Yang Budaya Pariwisata Pendidikan · 28 Mei 2014 Oleh: Steven Amor Tarigan (Medan) Setiap zaman, pola pikir dan pergerakan setiap individu atau kelompok berbeda-beda menurut kebutuhannya masing-masing pada masanya. Khususnya pergerakan Mahasiswa pasca peralihan kekuasaan Orde Baru menuju Reformasi, pergerakan secara kelompok gencar terlihat. Ide-gagasan berpadu untuk melawan rezim yang otoriter. Berlalunya waktu, kini di Era Reformasi militansi dari kaum perubahan kian tergerus dengan kesibukan masing-masing. Di tengah menjamurnya organisasi atau lembaga swadaya di tengah masyarakat, organisasi dari kelompok etnis Karo tampaknya kian meredup. Khususnya Mahasiswa Karo di Sumatera Utara, seperti hidup segan mati tak mau. Image negatif yang melekat di mata masyarakat menyatakan perkumpulan mahasiswa Karo hanya sebatas hedon atau hura-hura, berkumpul ketika ada gendang-gendang . Namun sebenarnya, di balik itu semua, di dalam perkumpulan mahasiswa Karo banyak potensi yang dapat dikembangkan. Hanya saja, kesempatan itu tidak dimanfaatkan dengan maksimal atau dibiarkan berkembang atau hilang dengan sendirinya. // Kaderisasi yang kurang menjadi salah satu faktor penghambat dalam perkembangannya. Dibutuhkan jalinan komunikasi yang apik antara kelompok mahasiswa, kelompok pemuda, dan kelompok orangtua. Dengan terciptanya sinergitas tersebut, akan terbina hubungan timbal-balik dalam landasan ideologi, landasan konseptual, dan landasan kepeloporan serta terciptanya kaderisasi yang matang dan berkualitas. Kelemahan organisasi yang berbasis kedaerahan di kalangan masyarakat Karo perlu dibenahi. Ini menyebabkan rendahnya eksistensi dan loyalitas anggota terhadap organisasi, rendahnya militansi anggota dan pengurus serta terjadinya krisis kader yang berakibat terancamnya regenerasi, kejenuhan berorganisasi, rendahnya kemampuan dalam memanejemen permasalahan yang ada. Oleh karena itu dibutuhkan konsolidasi organisasi dengan peningkatan kualitas berorganisasi khususnya bagi mahasiswa Karo, membangkitkan motivasi dan minat berorganisasi, meningkatkan kemampuan memanejemen konflik baik permasalahan pribadi maupun permasalahan organisasi, mengembalikan harmonisasi yang telah hilang di kelompok-kelompok, mempersiapakan regenerasi. Agar sasaran yang akan dicapai dalam berorganisasi dengan terciptanya kader-kader yang berkualitas dalam berorganisasi sebagai modal dasar di masa depan, menghasilkan kader-kader yang mempunyai minat dan motivasi berorganisasi, kedewasaan dalam memanajemen konflik, membangun kembali harmonisasi di dalam elemen civitas gerakan, tersedianya sumber daya yang siap melanjutkan roda kepengurusan organisasi dengan menciptakan jiwa kepemimpinan yang dapat menyesuaikan diri dalam sikap dan kinerja, kepercayaan diri dalam kepemimpinan dalam interaksi sosial ke dalam dan keluar kelompok, membentuk pencapaian diri dan manajemen yang baik dari jiwa kepemimpinan (keinginan, kemampuan dan hubungan kerjasama antar golongan). Sudah saatnya kita duduk bersama, berpikir dan berunding dengan mengeyampingkan kepentingan pribadi demi kemajuan kita bersama untuk generasi penerus yang berkualitas dari Taneh Karo Simalem. Jika tidak dibenahi sejak dini, kelak tidak satupun diantara kita yang bisa tampil di kancah nasional. Contoh nyata di dalam pemerintahan daerah, bisa dihitung jari berapa jumlah orang Karo yang dapat berperan dalam roda pemerintahan. Seni budaya yang sudah mulai langka seperti ndikar , tarian klasik lainnya, system peradatan, cara ertutur, dll. Sifat individualis orang Karo sudah saatnya dirubah mengingat zaman yang terus berkembang. Dibutuhkan kelompok yang memiliki eksistensi dan loyalitas untuk saling menopang dalam menghadapi kompetisi sehat di lapangan. Semoga pencerahan dan kepedulian kita kepada generasi penerus dapat mengetuk hati kita, agar menciptakan cita-cita bersama di Taneh Karo Simalem. Sikuning-kuningen kita radu megersing, siageng-agengen kita radu mbiring. Mejuah-juah Karo Ersada Karo Ersinalsal // Iklan