Jangan Biarkan Lembah Sibayak Tinggal
Menurut info yang saya dengar, kira-kira 5 tahun lalu ada organisasi yang menyatakan Desa Doulu itu adalah bagian dari Hutan Lindung Leuser. Bagaimana itu menjadi Hutan Lindung Leuser kalau pemerintah kolonialpun sudah mengakui Lembah Sibayak adalah tanah ulayat di Dataran Tinggi Karo?
Saya tertarik menuliskan ini sehubungan dengan kabar burung yang mengatakan jalan masuk ke Desa Doulu adalah jalan kuda yang dibuat Belanda. Yang pasti saya ingat, jalan itu dibangun oleh masyarakat Doulu, generasi orangtua saya sesudah Kemerdekaan Indonesia diakui oleh PBB tahun 1949. Jalan tersebut dibangun pada pertengahan tahun 1950an.
Masyarakat Karo di Desa Doulu sedang giat-giatnya membangun. Mereka semua tua-muda dan anak-anak kecil (karena tidak ada orang yang jaga) semua ikut bergotong-royong membangun jalan. Saya masih ingat semua laki-laki desa menebang pohon dan menggeser batu-batuan yang sangat besar supaya ada ruangan membuat jalan. Jalan menuju Rajaberneh[/caption]
Berita Terkait: Aqua dan Warga Doulu (Bagian 1) Aqua dan Warga Doulu (Bagian 2)