Kbb, Debat Dan — Sorasirulo
Sorasirulo

Kbb, Debat Dan

Budaya ·
Kbb, Debat Dan
Oleh: Robinson G. Munthe (Jakarta)

Umumnya orang yang belum memahami, menganggap sosialisasi pencerahan KBB adalah gerakan yang didasari sakit hati, iri hati, perasaan dikalahkan, eksklusivisme, naif dan sukuisme yang sempit. Itulah sebabnya dibutuhkan data, fakta dan pendapat para ahli yang kompeten dalam berargumentasi.

Tapi jangan lupa, sekuat apapun dan sebaik apapun kita berargumentasi akan selalu ada orang yang tidak setuju dengan melontarkan argumentasi yang kontra (baik masuk akal maupun masuk tong sampah). Karena itu, ketegasan dalam menentukan sikap sangat diperlukan, yakni sikap atas kebenaran KBB dan sikap untuk sesegera mungkin meninggalkan debat yang mengarah ke debat kusir, karena debat kusir tidak efektif dan mencederai kehormatan gerakan KBB di mata publik.

Diperlukan kecermatan dan kejelian untuk mendeteksi apakah sebuah debat akan mengarah pada debat kusir atau tidak. Tanda-tandanya adalah kalau seseorang sudah menyerang karakter (pribadi ataupun etnis), penggunaan kalimat sarkastis yang merendahkan, ke luar dari topik bahasan dan argumen yang kacau (asal menjawab). Jika perbincangan telah mengarah ke sana, segeralah tinggalkan debat dengan kata-kata penutup (kata kunci) karena debat itu tidak akan menguntungkan KBB. //

Ingat, medan sosialisasi KBB demikian luas dan beragam. Jangan pertahankan berdebat hanya karena menjaga gengsi diri (takut kalah malu). Aktivis KBB adalah representasi suku Karo yang cerdas, santun, taktis, kuat dan berakal budi. Namun jika debat/ diskusi masih dalam konteksnya, maka layanilah perdebatan sampai tuntas sehingga orang tersebut memahami secara jelas sudut pandang yang mendasari KBB. Entah dia setuju atau tidak setelah itu, bukan masalah.

Tujuan berdebat bukan untuk menang-menangan dan menunjukkan keunggulan pribadi, tetapi menjelaskan dan menyebarluaskan tentang kekaroan dan memperkuat positioning Karo di masyarakat. Tak ada gunanya menang berdebat (dan orang merasa kalah dan dipermalukan) jika pada akhirnya citra Karo rusak di mata publik.

Pasar KBB adalah publik. Khususnya di media sosial/ umum. Selain dengan rekan berdebat, orang lainpun bisa melihat kualitas kita sebagai orang Karo. Itu satu hal yang harus selalu menjadi pertimbangan.