Ke Posko Pengungsi Sinabung, — Sorasirulo
Sorasirulo

Ke Posko Pengungsi Sinabung,

Ke Posko Pengungsi Sinabung,
Herlina Surbakti (Medan)

Siang tadi , saya dan Loli sebagi kameraman serta Adam sebagai photographer dengan panduan suster Maria berkunjung ke Posko tempat bernaung pengungsi dari desa Sigarang-garang.

Di situ, ada 33 keluarga pengungsi. Ketika kami dating, cuma orang-orang tua dan anak-anak kecil yang ada di pengungsian. Orang –orang tua ini kelihatanya mengalami depressi. Sedangkan anak-anak kelihatannya sangat bahagia bermain dengan relawan-relawan yang datang dari Binjei dan tempat-tempat lainnya sekitar Medan. Awalnya, kami mau mengunjungi Posko pengungsi di UKA. Tapi kami hanya diberi uang 2 juta rupiah oleh donator kami. Jadi, suster Maria menyarankan kami ke Posko yang kecil saja.

Saya berhasil membuat Nini Bulang yang bermerga Pandia menjadi “happy”. Ketika saya berkata saya beru Surbakti asal Jumaraja langsung dia tersenyum. Rupanya istrinya pun beru Surbakti asal Jumaraja. Dia menambahkan pula, ibunya pun beru Surbakti.

Saya bertanya, apakah dia bisa bernyanyi Karo. Ternyata beliau tidak bisa. Tapi, dia bisa berpantun. Lalu saya ambilkan kursi ke dalam kantor dan saya berikan kepadanya. Dia menolak. Saya kaget. Mengapa? Ternyata mannernya sangat bagus seperti orang Eropah (Inggris) yang saya kenal. Dia menjawab: Apai ingan kundul kena? Sesudah kami ambil beberapa kursi lagi baru beliau mau duduk.

Dia juga sangat mandiri, tidak mau ditolong untuk berjalan. Setelah akhirnya beliau duduk dengan saya dan berpantun ternyata hasil rekamannya tidak baik. Lalu saya usulkan untuk pindah lokasi. Lalu dia mengatakan, saya tidak serius. Mungkin banyak orang telah meminta untuk berpantun dan mereka tidak serius. Ternyata setelah dia memulai pantunnya semua sangat bagus berupa nasehat-nasehat. Loli mempunyai rekamannya. Sesudah selesai saya berikan sen perpinem . Lalu apa katanya?

E kari enggo banci kutukur NOMOR ,” katanya.

Dugaan saya, yang dimaksudkannya adalah Nomor TOGEL. // //