Hari Minggu yang lalu, dalam kunjungan kami mengajar anak-anak Desa Doulu, saya berkesempatan bercakap-cakap dengan istri kepala desa. Dia adalah anak saya juga. Selama ini tidak pernah ada waktu untuk mengobrol dengannya. Soalnya, ketika saya dating, biasanya dia bekerja di ladang di samping rumahnya. Saya sangat terkejut atas penilaian yang diberikannya tentang orang Batak dan orang Karo yang ada di Desa Doulu. Dia mengatakan, pekerja-pekerja Batak biasanya sangat gigih dalam pekerjaan. Hormat sama majikan. Kalau dia pulang kampung, dia tidak akan pernah lupa membawa oleh-oleh untuk majikannya. Selalu jujur dalam bekerja. Dia tidak akan mencuri.
Sedangkan pekerja Karo berkelakuan sebaliknya malas dalam bekerja. Tidak hormat sama majikan dan tidak pernah berusaha supaya majikan senang. Selalu tidak jujur kalau tidak diawasi.
Kalau orang Karo sukses, mereka akan menjadi sombong terhadap orang-orang kampung yang miskin walaupun mereka masih bersaudara. Sedangkan orang Batak akan sangat menghargai saudara-saudarannya yang tidak punya termasuk saudaranya yang orang Karo. Contohnya, pada suatu hari, mereka diundang untuk menghadiri sebuah pesta di Sidikalang oleh kerabat orang Batak. Pihak yang mengundang memastikan hidangan untuk tamu dari Doulu semua dilayani dengan sebaik-baiknya. Ketika pulang, merekapun diberi Rp 500,000 per orang oleh kerabat yang mengundang mereka.
Tetapi, dia juga mengakui, orang-orang Batak yang bekerja di Doulu masih berbuat baik apabila jumlah mereka sedikit. Kalau mereka sudah lebih dari tiga orang, mereka pun akan lebih berani dalam bertindak. Jadi, menurut ibu ini, kalau kita mau bergerak maju, kitapun harus bekerjakeras, bertanggungjawab serta saling hormat dan peduli pada sesama.
Menurut saya semua nilai niai di atas adalah nilai-nilai yang pernah dianut oleh leluhur kita. Sebagai seorang guru, saya sependapat, kita harus mempelajari nilai-nilai pendahulu kita ditambah pula dengan ilmu technologi termasuk di dalamnya technologi komunikasi. // //