Kolom M.u. Ginting: Florence Sihombing Vs — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom M.u. Ginting: Florence Sihombing Vs

Kolom M.u. Ginting: Florence Sihombing Vs
Para seniman Karo yang berkarakter introvert[/caption] Jadi menarik juga persoalan wanita Batak Florence Sihombing ini. Menarik karena bisa jadi pelajaran bagi semua, bagi dua tipe manusia: extrovert dan introvert .

Orang Batak adalah extrovert , stimulasi extern. Cepat melihat dan mendengar soal-soal extern, tetapi tak bisa melihat dan mendengar dari segi intern. Sebaliknya terjadi bagi orang introvert seperti orang Karo dan orang Jawa terutama orang Yogya.

"Jogja miskin, tolol, dan tak berbudaya. Teman-teman Jakarta-Bandung jangan mau tinggal di Jogja," tulis Florence.

Sekiranya seperti ini diucapkan di Tano Batak (Tarutung atau Balige, misalnya) tentu imbasnya lain, atau tak berimbas sama sekali, karena di sini ’biasa saja’ atau tak ada yang tersinggung seperti di Yogya. ’Lain lubuk lain ikannya’ atau ’lain padang lain belalangnya’, kata pepatah termasyur negeri ini. Ini berlaku bagi semua orang, tetapi tidak selalu diingat oleh semua orang, terutama di era lalu, era dominasi extroversi dunia.

Quite Revolution dunia (Susan Cain) belum bisa diikuti oleh banyak orang terutama sebagian besar dari orang-orang extrovert . Sebaliknya orang-orang introvert sudah banyak yang bangun dan ikut aktif dalam revolusi perubahan pikiran ini. Antara Quite Revolution dan Revolusi Mental[/one_third]

Jokowi menamakan ’revolusi mental’. Orang Karo bikin KBB (Karo Bukan Batak), orang Yogja tak mendiamkan penghinaan atas kota dan budayanya. Semua kebangkitan ini telah dimulai di abad lalu dalam perang etnis besar-besaran di seluruh dunia. Perang ini pada dasarnya juga adalah perang pembebasan introversi dari dominasi extroversi yang sedang berlaku di seluruh dunia abad lalu. Dominasi ini berlaku di bidang politik/ekonomi tetapi juga sangat menyolok di bidang kultur dan kebudayaan.

Di negeri kita ada tambahan extra pepatah di atas yaitu ’dimana kaki berpijak di situ langit dijunjung’. Inipun juga sering dilupakan. Hal menarik dari sini ialah, kelupaan atas pepatah terakhir ini telah bikin perang etnis yang paling tak berperikemanusiaan dan sangat banyak korbannya terjadi di seluruh dunia di Abad 20 dan masih banyak sisanya di Abad 21.

Di Kalimantan, terjadi terutama antara extrovert Madura atau juga Bugis dengan penduduk asli setempat. Di Yogyakarta sekarang ini diwakili oleh extrovert orang Batak Florence Sihombing kontra penduduk asli Yogya yang introvert.

Adanya gugahan terhadap soal ini menandakan bahwa Revolusi Mental (Quite Revolution ) di Yogya sedang menanjak di kalangan kaum introvert Jawa dan Yogyakarta.

Quite Revolution ini di Doulu diwakili oleh kepala desanya Amos Ginting dengan membongkar ’pembodohan Karo’ yang dilakukan oleh orang-orang Batak dan Aqua. Revolusi ini telah dimulai dengan jitu oleh Miss Karo Herlina Surbakti dalam artikel-artikelnya di Sora Sirulo .

"Kami menolak karena terlihat Florence dan kuasa hukumnya tidak tulus, kita bisa lihat gesture tubuhnya, bagaimana dia bicara," kata Ryan .

”Selain itu, dalam pembicaraan mereka, Ryan menilai bahasa yang diucapkan oleh kuasa hukum Florence tidak seperti meminta maaf tetapi menyuruh.”

Florence dan kuasa hukumnya belum juga sadar kalau mereka berhadapan dengan orang-orang introvert, dan sedang hidup dalam era yang sudah berlainan dengan era lalu, satu era dengan Quite Revolution atau Revolusi Mental yang sedang melanda dunia. Berita-berita Terkait:

Aqua dan Warga Doulu (Bagian 1)

Aqua dan Warga Doulu (Bagian 2)

Panandatanganan MoU Aqua Doulu Ditolak

Kolom M.U. Ginting: Aqua dan Lembah Sibayak

Kolom M.U. Ginting: Fenomena Florence Sihombing dan KBB // //