Kolom M.u. Ginting: Tari Saman Di Bundaran
Pertunjukan Tari Saman di Bundaran HI, Jakarta punya arti yang lumayan bagi Capres Jokowi, tetapi juga bagi semangat kesatuan negeri ini. Tari Saman adalah tari asli tradisional Suku Gayo, tetapi sudah terbiasa disebutkan tari dari Daerah Aceh. Di sini, istilah ’Aceh’ malah dimanfaatkan oleh orang Gayo dalam arti positif. Orang Gayo seperti juga orang Karo di Sumut, sangat patriotis nasionalis pro Soekarno ketika berjuang melawan penjajahan. Suku ini tak pernah berideologi GAM dan berada dalam situasi ’terancam’ ketika GAM perang dengan RI Jakarta. Karena itu, dukungan orang Gayo terhadap PDIP dan Jokowi punya arti bernuansa sejarah patriotisme/ nasionalisme. Bersama dengan pertunjukan Tari Raja dari Papua di Bundaran HI, membikin arti nasional yang lebih besar lagi seperti dalam arti ’Sabang-Merauke’. Bangsa kita tentu sangat berterimakasih adanya inisiatif ’Sabang-Merauke’ ini dalam bentuk seni, tarian yang indah. Inisiatif orang Gayo, satu etnis minoritas Indonesia tetapi bersama Karo sebagai etnis dengan kultur tertua di negeri ini (7400 tahun), dalam menunjukkan Tari Saman Gayo di Bundaran HI, merupakan satu kegiatan yang sangat banyak artinya bagi Gayo maupun bagi Indonesia terutama sekali dengan dimunculkannya pertunjukan kedua macam tari itu (Tari Saman dan Tari Raja). Bravo Gayo (Jika diam saja tak akan ada perubahan) // //