Memberi Tanggapan Positif Dengan — Sorasirulo
Sorasirulo

Memberi Tanggapan Positif Dengan

Budaya ·
Oleh: Herlina Surbakti (Medan ) Ternyata, untuk bisa mememberi taggapan positif secara jujur terhadap kolega ataupun siapa saja memerlukan pelatihan sejak usia dini.

Sekolah-sekolah di Amerika maupun di sekolah internasional para guru sudah melatih anak-anak didik sejak usia dini untuk bisa memberi tanggapan positif terhadap presentasi dari teman-teman mereka. Seorang guru akan mendorong/melatih anak-anak didik untuk memberi tanggapan yang positif saja. Sebagai guru, sayapun ikut bertanggungjawab mengajar murid-murid saya untuk hanya memberi tanggapan yang positif ketika mereka dimintai masukan. Keterampilan memberi komentar positif ini memang harus dilatih sejak usia dini.

Memang, memberi komentar negatif sangat mudah untuk dilakukan sehingga tidak perlu diajarkan. Semua kita sudah bisa melakukannya secara alami.

Bagaimana dangan kita di Indonesia? Kebanyakan dari guru-guru kita memang jarang mengajak kita untuk member tanggapan positif saja terhadap hasil kerja teman sekelas. Mungkin juga karena sistem pembelajaran kita selama ini Feedback dari semua murid atas pekerjaan di sekolah belum pernah atau masih jarang dilakukan. Karena itu, banyak teman-teman saya guru yang mengatakan orang Indonesia semua saling dengki. Atau kita sendiri orang Karo mengatakan banyak di antara kita yang ACC.

Orang yang sudah dewasa mungkin agak sulit mengubahnya. Karena orang dewasa layaknya sebatang pohon tidak akan bisa lagi diluruskan kalau tumbuhnya sudah bengkok. Jadi, kalau memang ada diantara kita yang sudah mempunyai sifat ACC, setidaknya kita perlu menyadarinya. Mungkin kita bisa mengajarkan feedback positif yang jujur kepada generasi muda dan yang akan datang. Misalkan dalam pembelajaran "Cooperative and Collaborative" yang sangat tepat untuk diimplementasikan di kelas-kelas agar anak-anak didik siap menghadapi persaingan global sekarang ini.

Kita seharusnya tidak bersaing dengan saudara-saudara kita sesama orang Indonesia ataupun sesama orang Karo. Saingan kita adalah orang-orang dari negara-negara tetangga. Kita mempunyai sumber daya alam yang kaya. Tetangga kitalah yang banyak untung kalau kita tidak mampu. Contohnya, 36 tahun lalu saya bekerja mengajar Pengungsi Vietnam di Pulau Galang, Kepulauan Riau. Setiap hari pasir diangkut dengan kapal khusus untuk membangun Singapura. Kabarnya, sampai hari inipun kegiatan itu masih terus berlangsung sehingga Kota Singapura sudah sangat berbeda dengan Kota Singapura 36 tahun lalu. Singapura telah berkembang ke atas, ke bawah dan ke samping sehingga garis pantai kitapun semakin menyusut.

Untuk itu ,saya sarankan supaya anak-anak didik kita diajarkan dengan pembelajaran Cooperative and Collaborative Learning. Metode pembelajaran abad 21. Belajar saling mendukung dan melengkapi. Ini semua tercakup pada kurikulum 2013 apabila dilaksanakan dengan baik dan benar.

Mejuah-juah! // //