Memprihatinkan, Murid-murid Kelas 3 Sd Belum Bisa — Sorasirulo
Sorasirulo

Memprihatinkan, Murid-murid Kelas 3 Sd Belum Bisa

Pedesaan ·
Memprihatinkan, Murid-murid Kelas 3 Sd Belum Bisa
Oleh: Herlina Surbakti (Medan) Seperti biasanya setiap hari minggu, saya pergi ke Desa Doulu mengajar Bahasa Inggris. Kemarin saya menemukan sesuatu tentang murid bahasa Inggris yang saya ajar. Selama ini pembelajaran di kelas hanya kegiatan mendengar dan berbicara saja. Kemarin saya mulai dengan pelajaran membaca dan menulis. Saya menemukan sesuatu yang tidak lazim bagi anak-anak yang ada di kota seperti halnya di Jakarta.

Anak anak kelihatan stress dan sedih. Saya bertanya: “Mengapa kalian kelihatan bersedih dan tidak bersemangat?”

Jawabannya sangat mengejutkan: “Kami belum bisa membaca, miss?”

Kelas piga kin kena ?” tanya saya.

“Kelas tiga, Miss Karo,” jawab mereka.

Semua yang hadir kemarin cuma seorang anak kelas dua yang sudah membaca dengan lancar. Anak-anak ini sudah menyadari bahwa hanya dengan pendidikan mereka baru akan bisa mengubah nasib mereka.

Kemudian saya tanya apakah orangtua mereka bisa membaca? Mereka jawab: "Ya".

“Kalau begitu nanti malam kalian minta diajari membaca sama orangtua kalian, ya.”

Jawabannya juga mengejutkan saya!

“Kami tidak punya buku, miss. Bu guru hanya memberi satu buku untuk enam orang dan kami tidak pernah mendapat giliran untuk membawa buku itu pulang, Miss.” Kata mereka.

Mereka kelihatan sangat sedih. Apakah situasi ini mewakili situasi anak-anak yang bersekolah di desa-desa Tanah Karo atau desa desa di seluruh Indonesia? Minggu depan saya akan mulai mengajari mereka membaca.

Di lain kesempatan, saya bertemu dengan seorang guru dari Kabanjahe. Dia menceritakan bagaimana nasib guru-guru di sana. Menurut keterangan Bapak Guru ini mereka diundang untuk menghadiri pelatihan guru di Stabat (Langkat). Dalam hati saya bertanya, mengapa di Stabat dan bukan di Medan? Mereka di Stabat selama satu minggu dan diberi uang saku sebanyak Rp 600.000.

Menurut keterangan bapak ini, pelatihnya datang dari Medan. Kemudian si pelatih menyerahkan bahan-bahan pelatihan kepad guru yang ada di Stabat. Demikianlah pelatihan pun dilakukan oleh sesama guru tentu hasilnya pun minimal. Kemudian saya mendengar pula bahwa pelatihan guru-guru yang dari Medan selalu diadakan di Berastagi. Kalau ini semuanya benar maka guru-guru Kabupaten Karo akan berada di bawah standard guru-guru dari Medan. Pertanyaan saya:

  1. Apakah ada diantra kita yang bersedia menyumbangkan buku-buku bacaan bekas untuk anak-anak saya ini?
  2. Apakah mungkin di setiap desa bisa digerakkan anak anak yang sudah tamat dari SMA dan tinggal di desa untuk mengajar membaca anak-anak SD yang tidak bisa membaca?