Mengangkat Batang Terendam: Melestarikan Tradisi Lisan
Matahari cerah dan langkahku terhenti sejenak. Ingin nongkrong juga. Tapi aku ke Leiden bukan untuk nongkrong di pasar! Di dalam museum, KITLV menyelenggarakan seminar sehari “Negotiating The Spoken Word: Storytelling in the Indonesian Archipelago.” Acara gratisan yang dimulai dari pk 10.00 sampai pk 17.00 itu diisi oleh tujuh orang pembicara bermutu. Sebagian besar di antaranya adalah pengajar atau peneliti di Universitas Leiden: Aone van Engelenhoven, Els Bogaerts, Tom Hoogervorst, Marije Plomp dan Clara Brakel; Pudentia Mpss, ketua Kajian Tradisi Lisan yang datang dari Indonesia dan Marjolijn Groustra, seorang illustrator yang terbakar inspirasi melukis setelah mendengar dongeng penciptaan orang Pakpak-Dairi.
Di dalam ruangan seminar, aku teringat pada seorang temanku, Rachel, yang hobby mengumpulkan dongeng. Ia sudah mengumpulkan lebih dari 3000 dongeng dari seluruh Nusantara dan jumlah itu terus bertambah.
Setiap kelompok masyarakat di Indonesia mempunyai cerita, mengenai asal-usulnya, lingkungan alamnya, nenek-moyangnya, sejarahnya dan budayanya. Tak terhitung jumlahnya dan beraneka pula sumber inspirasinya. Foto: TOM HOOGERVORST[/caption]
Tom Hoogervorst adalah pembicara yang agak ‘lain’. Ia tidak mengutak-atik dongeng, melainkan roman picisan Sino-Melayu dari awal abad ke-19. Siapa di antara kita yang tidak mengenal Khoo Ping Ho dan cerita-cerita silatnya yang seru, menegangkan dan sesekali romantis? Selain cerita-cerita silat, penulis-penulis Cina-Melayu banyak menulis roman cinta—yang dulunya dijual murah seharga 10 ketip atau 10 sen. Foto: TOM HOOGERVORST[/caption]
Selingan ke tiga yang ditayangkan adalah ratapan Karo yang merupakan bentuk campuran antara tradisi musik dan bercerita. Melalui ratapan berjudul Beidar Nandena, Juara Ginting bercerita mengenai hilangnya seekor kambing hutan yang sempat keluar dari persembunyiannya di dalam belantara setelah Gunung Sinabung meletus. Binatang itu menghilang lagi entah ke mana setelah diamankan oleh pihak yang berwenang. Ketukan halus berirama dari dua buah keteng-keteng (alat musik perkusi dari bambu) dan sebuah gong serta tiupan belobat (sejenis suling) dan kulcapi (kecapi) yang dimainkan oleh Juara memberikan suasana dramatis sebagai pengantar dan latar belakang cerita di dalam ratapan itu. BEIDAR NANDENA dituturkan oleh Juara Ginting sambil bernyanyi diiringi musik tradisional Karo (Foto: TOM HOOGERVORST)[/caption]
Puncak dan penutup acara adalah peluncuran buku “Dairi Stories and Pakpak Storytelling” (2014) oleh Clara Brakel. Buku itu merupakan hasil olah data penelitian mengenai tradisi lisan yang dilakukan Clara bersama almarhum suaminya. Cerita-cerita rakyat yang terangkum di dalamnya merupakan hasil pencatatan dari lapangan penelitian puluhan tahun lalu. Juara Ginting saat melakokan ibu Beidar menyuruhnya Beidar mengungsi dari Sinabung[/caption]