Mengenal Kinikaron Melalui Gerakan — Sorasirulo
Sorasirulo

Mengenal Kinikaron Melalui Gerakan

Budaya Pendidikan ·
Mengenal Kinikaron Melalui Gerakan
Oleh Stevan Amor Tarigan (Medan)

Kata kunci dari KBB (Karo Bukan Batak) ialah bagaimana orang Karo dapat menunjukkan jati diri secara bebas tanpa adanya intervensi, kontaminasi, dan intimidasi. SANGAR SENI SIRULO BENTENG BUDAYA KARO (Foto: Alex Ginting)[/caption]

Dengan pemikiran positif kita harus berjalan bersama-sama agar tidak terjadi miskomunikasi sehingga terciptanya perpecahan diantara kita. Tanpa kita sadari (tangible/intangible ), agresi budaya telah berlangsung lama dan berlaku hingga kini. Kultur budaya Karo sudah banyak yang ditinggalkan. Aset-aset budaya banyak yang tak lagi muncul saat ini. Haruslah kita cermati dengan rasa ingin tahu dengan mengedepankan pikiran positif tanpa sentimen pribadi atau kelompok, tanpa kepentingan pribadi atau kelompok. Mari kita merenung sejenak, kenapa saat ini PENGULU KARO di setiap perkampungan orang Karo dapat dikatakan sama sekali hilang atau tidak ada. Apa yang menyebabkannya? Cobalah untuk berpikir lebih jauh.

Saya mencoba mengambil contoh sederhana seperti TANAH ULAYAT. Saat ini, masa sekarang di zaman mordernisasi, pertumbuhan manusia semakin pesat dan membutuhkan sarana tempat tinggal, lahan untuk mata pencaharian, dll. Lalu, apa hubungan antara PENGULU KARO dengan TANAH ULAYAT?

Kita ambil lagi contoh kasus seperti kawasan hutan Sikodon-kodon yang dikuasai oleh Taman Simalem Resort dan Taman Pramuka Sibolangit yang disebut-sebut sebagai Tanah Ulayat Orang Karo dan tempat lainnya yang kelak akan terekspos ke permukaan. Kini, telah dikuasai oleh pihak ke tiga. Lalu, apa yang bisa dilakukan oleh orang Karo selain melepaskannya dengan berat hati karena tidak dapat membela diri dari sistem yang ada? Sejauh mana orang Karo sendiri dapat mempertahankan Tanah Ulayat lainnya jika sendi atau pengetua adat yang disebut sebagai hakim (masa modern) Pengulu Kuta tidak ada lagi dalam sistem adat/budaya Karo? Apakah mempunyai kekuatan besar untuk mempertahankannya jika dihadapkan oleh peraturan perundang-undangan agrarian saat ini? Mari sekali lagi kita berpikir jernih dan hati-hati. menununjukkan jati luhur orang Karo[/one_third]

Saya pribadi sangat percaya penuturan para tetua yang telah mendahului kita, bahwasanya Karo itu adalah masyarakat yang independen (walau pembuktiannya tidak dapat saya kemukakan, karena pada masanya bukti tulisan tidak ada). Dan, saya lebih percaya kepada leluhur saya sendiri dari pada cerita yang bersifat atau berkonotasi politis dengan klaim-kalim yang berlaku. Namun, sekali lagi, dibutuhkan kesabaran untuk menghadapi serangan-serangan dari luar untuk mengacaukan persatuan dan kesatuan kita selama ini yang telah terbina dengan baik. Bukan atas dasar sentimen namun menununjukkan jati luhur orang Karo agar bersama-sama kita kompak memberikan kontribusi kepada Negara kita melalui satu kebudayan yang luhur yaitu budaya Karo – Suku Karo. Tidak perlu kita merasa berkecil hati ketika KINIKARON kita tidak diperhitungkan. Tugas kita bersama membenahi dari dalam budaya kita budaya Karo agar ketika kita menginjakkan kaki ke kancah Nasional. Kita dapat bertarung secara sportif dan orang mengenal kita sebagai Orang Karo yang berbudaya bahagian dari Nusantara tercinta. Sekian dari saya, semoga dapat membuka pola pikir kita sebagai orang Karo. Tidak tertutup kemungkinan serangan-serangan akan muncul bertubi-tubi untuk mengahalau pertahanan kita dengan cerita atau informasi yang mereka berikan kepada kita. Tidaklah harus juga kita berseteru dengan suku lain karena warisan peninggalan para penjajah dengan berita penyesatan dan dimanfaatkan oleh sekelompok orang untuk tujuan tertentu. Ketika kita menyandang merga silima , maka kita adalah orang Karo dan harus bangga.

Sikuning-kuningen radu megersing, siageng-agengen radu mbiring. Karo Ersada Karo Ersinalsal. Mejuah-juah. // //