Merawat Dialog Sinabung (bagian
Konon, inilah yang membuat penasaran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menyaksikan langsung. Bahkan, hingga bermalam bersama pengungsi di areal posko tersebut. Upaya pelatihan untuk mengasah keahlian (brain ware ) ini merupakan pendekatan berbeda tentang bagaimana berdialog dengan pengungsi Sinabung.
Esensi terobosan ini terangkum dalam penjelasan Koordinator Relawan SPP Bastanta Purba. Para pengungsi tersebut tidak menderita secara fisik, namun mental yang terkungkung dalam penantian. Belum ditambah dengan penemuan jerih bertani mereka porak poranda oleh debu vulkanik. Program ini pun menjadi tahap jangka panjang, ketika ibu Ani Yudhyono bersedia menjadi sales dadakan untuk makanan dan barang hasil pelatihan tersebut. Setidaknya selama batuk Gunung Sinabung masih kumat.
Di samping itu, bekal keahlian tersebut juga mumpuni bila kebijakan relokasi sungguh dijalankan pemerintah. Namun pendekatan untuk relokasi sendiri berbeda dengan pembekalan keahlian tadi. Terlepas dari betapa baik tujuan relokasi tersebut, tanpa dibarengi strategi komunikasi yang benar, sulit bagi pengungsi memahami dan beradaptasi dengan lingkungan baru. Terlebih jika terdapat riwayat keluarga yang panjang dan mengharukan di kaki Gunung Sinabung.
Satu slogan yang diusung sebuah perusahaan asuransi, yakni "Selalu Mendengarkan, Selalu Memahami", baik untuk dilakukan untuk menyampaikan ihwal relokasi. Untuk ini sebenarnya membutuhkan waktu cukup lama dan kesabaran juga. Walaupun tak layak menjadi perbandingan dengan kasus Sinabung. Kiat Jokowi, semasa Walikota Solo, merangkul para Pedagang Kaki Lima tak berlangsung dalam kejapan mata saja. Sebagaimana kebiasaan budaya Timur, Jokowi mendengarkan pihak ke dua ialah setelah bersama-sama mengganjal perut terlebih dahulu.
Strategi yang unik berlaku ketika menyampaikan pesan kepada para pengungsi atau masyarakat yang disasar. Hendaknya tidak mengulang guyon tentang seorang pakar membawakan presentasi digital canggih ke daerah pelosok yang belum terjamah daya listrik. Hanya menimbulkan canggung dan sekat-sekat. Karenanya perlu memahami media komunikasi yang dekat dengan mereka. Terutama yang lekas diserap serta lama diingat. Dalam khasanah budaya masyarakat (secara khusus) pengungsi Sinabung, pentas seni dan lagu daerah merupakan pendekatan lebih membumi. Informasi atau pesan penting tersebut didesain untuk melebur dalam media komunikasi daerah tadi.
* Ananta Bangun adalah pewarta di Majalah Menjemaat - Komsos Keuskupan Agung Medan)