Beranda / Puisi: Di Punggung Uruk Batu Puisi: Di Punggung Uruk Batu Budaya Ekonomi Kesehatan Kuliner (resep masakan) Lingkungan Pariwisata · 8 September 2014 Oleh: Elisabeth Barus (Medan) Saat kurenung kembali alur cerita yang tercecer di berbagai masa walau itu telah silam namun terasa masih kemarin Aroma hijaunya dukut-dukut di jalanan setapak ladangku di punggung Uruk Batu Gajah Bunga rih yang putih berkejaran ditiup angin si lumang-lumang riuh suara imbo di kejauhan pertanda kerangen di sana masih perawan Senja tiba diiringi suara pet-pet yang sering juga kami sebut sue-sue disambut malam dan senyuman si Putri Dayang saat Purnama Raya Andehh... aku rindu saat itu aku kangen masa itu Masa saat-saat malam tiba di ladang kami saat bapaku ngires mbako lalu disusun rapi di rimpi bambu saat bila siding bapaku berhasil menjerat sokkir atau uskir saat bila padi kami menguning dan kami harus muro supaya padi kami tidak habis dimakan perik each saat kami membuat alat musik dari batang padi suaranya begitu nyaring Aku rindukan semua itu ingin rasanya kembali ke masa kanak-kanak itu yang tidak terkontaminasi zaman yang bising oleh game onlineps, internet Aku kangen landscape juma kami yang indah dikelilingi hutan hijau Di atas ladang kami ada paya namanya Paya Cike di sana banyak ikan sebakut banyak pula cike nya bisa dibayu jadi amak dan sumpit nakan Di bawah juma kami ada aliran sungai kecil namanya Buluh Laga kami sering ndurung dan ndokdak sige di sana Nini Karoku pintar masak sige ah... dia juga bisa makan jebang walau giginya sudah tidak ada dan aroma jebangnya cetar membahana kemana-mana Aku juga rindu Nini Karo dan Nini Bayakku mereka sudah kembali ke Pardis aku rindu semuanya aku merasa sangat beruntung pernah berada di masa indah itu // // Iklan