Renungan: Aku Ingin, Aku
“ I want, I want ” . Aku ingin, aku ingin..... Itulah kata-kata yang terus berputar-putar di kepalanya dan terngiang-ngiang nyaring di telinganya. Siapakah yang dapat mendengarnya? Ia tahu dan ia mendengarnya....... Sayangnya, tak ada orang lain yang tahu dan dapat mendengar hal yang sama sehingga pengertian itu terbelah menjadi dua jurusan yang sangat bertolak belakang.
Sementara, ia berdiri sendiri di persimpangan yang menentukan. Satu hal yang ia sadari bahwa ia sendiri. Sementara di jurusan satunya lagi, yang baginya penuh dengan kepalsuan dan kebohongan. Ketidakpedulian, segala citra buruk manusia, orang-orang sibuk dengan beragam aktifitas dan berkemas dan bergegas-gegas dipenuhi nuansa hedonis. Jika saja ia berdiri di jurusan yang sama, ia mampu memiliki segala apa yang tampak bagi orang lain gemerlap, bahkan menjadi pemegang kendali. Sesungguhnya ia memiliki. Tetapi satu demi satu menjadi di luar kendali tatkala ia kehilangan kesadaran untuk menegaskan apa yang diinginkan. Absurd, dan aneh, menjadi tampak wajar dan biasa di tengah menumpuknya persoalan.
Begitulah mungkin perasaan Henderson, tokoh protagonis novel Henderson The Rain King, ketika rasa ketenangan dan kemaslahatan menjadi pudar.
Sesungguhnya, orang-orang yang harus bekerja keras demi kehidupannya akan merasa cemburu terhadap kekayaan, status, dan keluarga yang dimilikinya. Bagaimana tidak, liburan yang bagi orang lain memerlukan waktu dengan segala persiapannya merupakan kesempatan yang dapat dilakukan Henderson kapan saja ia kehendaki.
Peternakan, yang adalah suatu kemewahan yang dimiliki orang-orang tertentu, bukan masalah besar bagi Henderson. Untuk itu, ia bahkan berani melawan nilai dan norma.
Musik, Henderson bahkan memiliki selera yang tinggi. Dan, akhirnya, nasihat-nasihat bijak yang sekiranya mampu merengkuh hatinya. Kitab Injil, yang seyogyanya memuat ajaran spiritualitas Sang Pencipta, serba membingungkannya. Tafsiran makna tak banyak memberi arti. Galau!
Dalam kebuntuan, ia masih memiliki sedikit kesadaran meninggalkan segala apa yang dimilikinya demi mencari ketenangan jiwa.
Ia pergi ke Afrika! Seolah jawaban itu di sana, di tengah suku terasing yang hidup seperti di zaman batu, sementara Amerika, negara super state tak menawarkan apa-apa. Tapi yang penting, ia merasa dibutuhkan di sana, yang berarti, ia ada dan ia hidup. Jiwanya tidak padam dan mati di tengah rimba belantara. Namun, apa yang ada dan hidup itu juga akan redup dan mati saat keangkuhan antar bangsa dan manusia menjadi kendali diri. Terusir!
Masih ada kesempatan baginya ketika bertemu dengan suku terasing lainnya. Nasihat bijak, yang dulu selalu dicarinya dalam kata-kata, tampak nyata kini ketika raja yang bijaksana dan baru kembali dari Amerika seperti menjadi contoh dan sumber ilham baginya. Binatang, yang juga mengajarkan banyak hal bagi manusia untuk menjadi bijak sehingga, tak heran, suku terasing memiliki hewan yang dianggap suci.