Sejarah, Wisata Dan
Pagi ini, tak sengaja saya menemukan sebuah artikel di www.theonlinecitizen.com . Artikel itu berbicara tentang menulis ulang sejarah Singapura yang dimulai 500 tahun lalu, bukan semenjak koloni Inggris menjejakkan kaki di Singapura.
Untuk Singapura, mari kita mulai dari Fort Canning Hill. Bukit ini oleh orang Melayu di Singapura dikenal dengan nama Bukit Larangan. Menurut mereka, di bukit itu bersemayam raja-raja yang dulu memerintah Tumasik, sebelum berganti gelar menjadi Singapura. Puncak bukit itu dipercaya sebagai makam Rajah Iskandar Shah, raja terakhir dari 5 raja yang memerintah Tumasik. Menurut catatan kolonial Inggris, ketika Inggris sampai di tempat ini dan ingin membangun Bukit Larangan sebagai pusat pemerintahan, orang-orang Melayu menolak menaiki bukit, karena menurut mereka bukit itu keramat. Bekas penggalian Micsick yang juga pernah mengadakan penelitian di Kota Cina (Medan) dalam kaitannya dengan Kerajaan Haru[/caption]
Mengitari Bukit Larangan, kita seakan berpindah-pindah dimensi, dimensi kolonial dan pre kolonial. Di bagian-bagian yang merupakan peninggalan kolonial, modernisasi dan sistemisasi terasa sekali. Semuanya rapi dan dibuat sesuai fungsinya. Tetapi di bagian lain, masa pre kolonial yaitu masa-masa abad XIV, betapa misteri masih menggantung di udara. Seakan ada rantai yang putus. Ketika melintasi Keramat Rajah Iskandar Shah tercium bunga rampai dan wangi-wangi magis lainnya, walaupun pengelola sudah memasang papan pengumuman, dilarang melakukan tirakat atau doa di makam Keramat. Keramat Raja Iskandar Shah[/caption]
Dari bendera yang berkibar mereka akan tahu kapal apa yang datang, barang apa yang dibawa, bahkan mereka juga tahu apakah kapal yang datang tersebut sedang terjangkit wabah penyakit menular. Persis di sebelah kanan berdiri tegak mercu suar pertama yang dibangun di Singapura. Berdiri di teras depan rumah Raffles, tepat langsung memandang Marina Bay tanpa halangan. Pahatan Eric Tay[/caption]
When I asked the sky, the sky continous to rain