Siapa Sultan Badiuzzaman Surbakti Dalam Sejarah
Perang dengan waktu sangat lama dan perang ini merupakan perang terlama dan terhebat di Pulau Sumatera dan salah satu perang terhebat di Indonesia sehingga pemerintah Hindia Belanda harus mengeluarkan ‘Medali Khusus’ untuk menghargai para pemimpin perang ini dari pihak mereka. Hal itu diketahui dari catatan yang terdapat di Museum KNIL, Bronbeek Belanda.
Kisah kepahlawanan Sultan Badiuzzaman Surbakti yang dahsyat tak tercatat secara formal, seperti di kurikulum pelajaran sejarah nasional. Sehingga banyak yang tidak tahu tentang selak beluk sejarah ini. Sultan Sunggal, Badiuzzaman Surbakti ini belum diangkat jadi Pahlawan Nasional. Penghormatan pun tidak ada sama sekali pada Pahlawan ini bahkan nama jalan di depan bekas kesultananya pun tidak ada.
Pada Tahun 1632, Sultan Iskandar Muda Aceh memberi gelar Laksamana Khoja Bintan kepada Sri Paduka Gocah Pahlawan, berkat pengabdian dan prestasi pada Kesultanan Aceh. Selain itu, beliau juga diberi tugas menjadi wali negeri untuk wilayah Kerajaan Haru yang sudah ditaklukkan (Sumatra Timur). Sri Paduka menikah dengan Putri Nan Baluan Surbakti, adik Datuk Imam Surbakti (Datuk Hitam Surbakti), Raja Negeri Sunggal. Oleh 4 Raja-raja Urung Suku Karo, ia diangkat menjadi raja pertama di Deli. Raja Urung Sunggal bertugas selaku Ulun Jandi, yaitu mengucapkan taat setia dari Orang-orang Besar dan rakyat kepada Raja. Sunggal memberikan sebagian ulayat (daerahnya) kepada Deli (wilayah Kuala Belawan dan Kuala Percut) dan Serdang, selaku kalimbubu kepada anak beru .
Tahun 1614, Tuanku Panglima Perunggit, Panglima Deli melanjutkan kekuasaan ayahnya, Sri Paduka Gocah Pahlawan.
Tahun 1669, Deli merdeka dari Aceh, setelah lemahnya pemerintahan Aceh dari Sultan Iskandar Muda yang beralih kepada raja-raja perempuan. Sejak itu Deli mulai membangun hubungan dengan Belanda di Malaka.
Tahun 1700, Tuanku Panglima Pa Derap menggantikan kekuasaan ayahnya, Panglima Pa Runggit.
Tahun 1723, Deli mengalami kekacauan karena perebutan kekuasaan diantara empat putra mahkota. Akhirnya, Deli jatuh ke tangan Tuanku Panglima Pasutan. Tuanku Umar Johan yang harus tersingkir dari Deli diangkat menjadi Raja Serdang pertama oleh Raja Urung Sunggal, Senembah, Raja Batak Timur dan seorang pembesar Aceh.
Tahun 1767, Tuanku Ainan Jonan Alamsyah menggantikan kekuasaan ayahnya sebagai Raja Serdang.
Tahun 1817, Tuanku Sultan Thaf Sinar Basarshah sebagai Raja Serdang menggantikan kekuasaan kakaknya, Tuanku Sainal Abidin yang gugur dalam perang Langkat. Pada masa pemerintahan beliau, Serdang mulai dikenal kuat karena perdagangan dan kemampuan perangnya.
Tahun 1819, Sultan Basyaruddin Syaiful Alamsyah menggantikan kekuasaan ayahnya sebagai Raja Serdang. Serdang mengalami banyak peperangan termasuk melawan Deli dan Langkat. Serdang memihak Kesultanan Aceh pada masa itu. Selain itu Serdang mulai mendapat gangguan dari Belanda.
Tahun 1822, Deli mencoba menaklukkan Sunggal dan gagal. Panglima Mangedar Alam, keturunan Sultan Deli menikah dengah Dayan Sermaidi Surbakti, anak dari Datuk Hitam Surbakti (Raja Sunggal).
Tahun 1823, Sunggal melepaskan diri dari Deli di bawah pemerintahan Datuk Amar Laut Surbakti, cucu Datuk Hitam Surbakti. Deli sebagai anak beru dianggap telah berkhianat, yang telah diberi ulayat oleh Sunggal malah ingin menaklukkan Sunggal yang merupakan kalimbubu nya sendiri.
Datuk Ahmad (Abdul Hamid Surbakti) menggantikan kekuasaan ayahnya sebagai Sultan Sunggal dan mengganti nama Sunggal menjadi Serbanyaman. Saat itu, Sultan Deli (Sultan Osman I) kembali membuka hubungan dengan Sunggal dan Aceh, lembaga Ulon Jandi kembali diaktifkan.
Tahun 1862, 16 Agustus sesuai Acte Van Erkenning wilayah Serdang ditaklukkan Belanda.
Tahun 1865, missi Belanda di bawah pimpinan Netcher memulai penanaman tembakau oleh Nienhuys di daerah Labuhan.
Tahun 1866, pada usia 21 tahun, Datuk Badiuzzaman Sri Indera Pahlawan Surbakti menjadi Raja Sunggal Serbanaman IX. Ia merupakan anak ke 4 dari Raja Sunggal Serbanaman, Datuk Abdullah Ahmad Sri Indera Pahlawan Surbakti, ibunya bernama Aja Mili. Kualitas tembakau Deli sebagai pembalut cerutu terbaik [/one_third]
Pada 1870, Belanda telah menduduki Sumatera Timur yaitu di Langkat dan sekitar Binjai membuka perkebunan tembakau dan karet. Belanda ingin memperluas usaha perkebunan ke Taneh Karo dengan alasan tanah di sekitar Binjai telah habis ditanami. Perkembangan ekonomi kapitalisme di belahan Eropa semenjak abad ke-17 membawa pengaruh ke berbagai belahan dunia lainnya. Salah satu wilayah yang tak luput dari pengaruh itu adalah Sumatra Timur. Kualitas tembakau Deli sebagai pembalut cerutu terbaik tak ayal menggoda nafsu serakah para kapitalis untuk menguasai lahan-lahan kepunyaan rakyat. Sultan Mahmud Perkasa Alam (Sultan Deli) memberikan tanah yang subur di wilayah Sunggal tanpa seizin rakyat Sunggal. Dijadikan konsensi perkebunan perusahaan Belanda yang bernama De Rotterdam dan Deli Maschapij.
Pada bulan Desember 1871, Datuk Badiuzzaman Surbakti memimpin rapat rahasia di sebuah kebun lada, untuk mengantisipasi pengambilan tanah rakyat yang telah dimiliki/diusahai selama bertahun-tahun oleh Maskapai Perkebunan De Rotterdam dan pasca ditandatanganinya Perjanjian Traktat Sumatera. Rapat itu dihadiri oleh Datuk Kecil Surbakti (Mahini), Datuk Jalil Surbakti, Datuk Sulong Barat Surbakti, Nabung Surbakti (Pulu Juma Raja) selaku komandan pasukan orang Karo pegunungan, dan Tuanku Hasyim mewakili Panglima Nyak Makam sebagai komandan Laskar Aceh, Alas dan Gayo. Hasil dari rapat adalah kesepakatan seluruh pihak yang hadir untuk menentang dan mempertahankan setiap jengkal tanah warisan leluhur dari penyerobotan pihak Belanda. Mereka sepakat untuk bersama-sama mengusir para penjajah. Makam Datuk SunggaL di Cianjur[/caption]