Sinabung Kembali Memijar Pagi — Sorasirulo
Sorasirulo

Sinabung Kembali Memijar Pagi

Budaya Ekonomi Kesehatan ·
Sinabung Kembali Memijar Pagi
Beberapa Menit Sebelumnya, Komunitas Karo di Belanda Tampilkan Nyanyian Beidar Sinabung Foto: Ariyadi Wijaya[/caption] BRANDY KARO SEKALI. KABANJAHE. Gunung Sinabung kembali mengalami guguran lava pijar mulai Pkl. 00.00 hingga 06.00 WIB.

Tampak guguran lava pijar yang mengalir dari puncak sisi Timur hingga 1 kilometer ke arah Tenggara. Selain itu terlihat pula guguran dari arah sisi Barat sejauh 1 kilometer ke arah Selatan. Dari catatan Pusat Vulakanologi dan Mitigasi Bencana (PVMBG) terlihat asap putih tebal setinggi 500 meter. Dalam kurun waktu 6 jam itu terjadi 26 kali gempa dengan frekwensi rendah dan 25 kali gempa guguran.

Sebelumnya, pada awal September kemarin, Kepala Pusat Badan Geologi Kementerian ESDM Surono mengungkapkan, aktivitas Gunung Sinabung belum akan menurun. Justru dalam waktu dekat diperkirakan akan ada peningkatan.

“Gunung Sinabung ini kecil kemungkinan dalam waktu dekat mau stop, kelihatannya agak mau ‘ngeces’ lagi itu, ada gempa-gempa frekuensi rendah dan sebagainya, mungkin masih besar potensinya,” kata Surono seperti yang dikutip Sorasirulo.com dari Tribunnews.

Menurut Surono, meski pertumbuhan kubah tersebut hanya berupa abu dan bukan bebatuan, Gunung Sinabung diperkirakan masih terus mengalami pertumbuhan kubah lava. Guguran juga masih terus berlangsung.

“Guguran kubahnya bisa diikuti oleh awan panas guguran,” ujarnya.

Yang perlu diwaspadai, imbuh Surono, justru kondisi cuaca di puncak yang saat ini mengalami hujan. Hal ini membahayakan masyarakat yang tinggal di sekitaran bantaran sungai yang menjadi jalur lahar Gunung Sinabung. Dengan kondisi seperti ini, gunung yang terletak di Dataran Tinggi Karo (Sumatera Utara) ini masih berada pada Level III atau Siaga. Karena itu, warga dilarang beraktivitas dalam radius 5 kilometer. Beidar Sinabung di Utrecht[/one_third_last]

Setengah jam sebelum Sinabung meletus pagi tadi, Komunitas Karo di Belanda baru saja selesai menampilkan Nyanyian Beidar Sinabung di Utrecht Indonesian Day (UID). Penampilan ini merangkai kisah sedih matinya seekor kambing hutan langka (dalam bahasa Karo disebut Beidar) setelah melarikan diri dari hutan Sinabung yang terus menerus semakin panas. Menurut Juara R. Ginting yang merancang pertunjukan ini, kisah Beidar ini mewakili sengsara dari warga kaki gunung itu yang sudah berbulan-bulan di pengungsian.

“Jangan pikir masalah Sinabung sudah selesai. Mungkin tidak akan pernah selesai. Tidak ada yang berani memastikan kapan bencana Sinabung akan berakhir,” kata Juara bertutur dari atas pentas sambil memetik kulcapi diiringi musik tradisional Karo secara live dan diselang-seling oleh Tangis-tangis dari Ibu Beidar yang dibawakan oleh Kristy Tarigan.

Nyanyian Beidar Sinabung disaksikan oleh ratusan pengunjung, termasuk Duta Besar RI untuk Belanda, Retno L.P. Marsudi. //