Ukraine Makin
Hasil referendum sudah bisa diramalkan bahwa sebagian besar penduduk Krim yang memang mayoritas dari etnis Rusia ini akan memilih untuk bergabung dengan Negara Rusia. Menurut hasil polling, 93% dari warga Krim akan memilih untuk bergabung dengan Negara Rusia. Pesta kemenangan telah dirayakan di Kota Sebastopol hari ini karena sangat diyakini kemenangan akan berada di pihak yang ingin bergabung dengan Negara Rusia. Apalagi, ternyata, lebih 80% penduduk Krim datang ke TPS untuk mengikuti referendum. Ribuan orang turun ke jalan sambil melambai-lambaikan bendera Rusia menunjukkan keyakinan menang.
Besok , parlemen Krim akan memohon secara resmi kepada PM Rusia Vladimir Putin untuk menerima Krim bergabung ke Negara Rusia. Perlindungan Minoritas
Amerika Serikat tetap tidak mengakui referendum Krim dan terus mendesak untuk mencari solusi politik. Juru bicara Gedung Putih mengatakan, Menlu AS John Kerry telah mengadakan pembicaraan dengan Menlu Rusia tentang perlunya reformasi konstitusional di Ukraine agar warga minoritas Ukraine yang berbahasa Rusia semakin dilindungi secara konstitusional.
Usulan AS ini tentu saja maksudnya bahwa AS juga prihatin terhadap posisi kaum minoritas berbahasa Rusia di Ukraine, tapi jalan keluarnya bukan dengan melakukan paksaan secara semena-mena sebagaimana yang dilakukan Rusia sekarang ini.
Usulan John Kerry dapat dimengerti seperti ini. PM Ukraine yang telah melarikan diri ke Rusia adalah kepercayaan Rusia dan, oleh karena itu, kepemimpinannya selama ini dapat menjamin kenyamanan warga minoritas yang berbahasa Rusia. Di pihak lain, gerakan demonstrasi yang terjadi baru-baru ini, yang membuat kepemimpinan PM sebelumnya runtuh, sangat menginginkan Ukraine bergabung dengan Uni Eropah. Sangat berbeda dengan warga minoritas berbahasa Rusia yang anti Barat. Dengan kepemimpinan baru, apalagi sudah ada isu-isu yang tersebar, dikhawatirkan warga mayoritas Ukraine akan menekan warga minoritas ini.