Aku, Cinta Dan Babi Yang
Sering sekali kita mendengar pertanyaan serupa dalam kehidupan dan interaksi sosial kita sehari-hari. Pertanyaan yang sama bahkan harus dijawab oleh orang-orang besar, berpengaruh dan terkenal sekelas Bill Gates, Roosevelt dan bahkan pemimpin kelas dunia Adolf Hitler.
Dari catatan singkat di atas, dapat kita simpulkan bahwa manusia merupakan mahluk yang sebenarnya gak pintar-pintar amat, walau secara umum berdasarkan kelas klompok mahluk hidup di bumi ini (apalagi menurut kitab suci beberapa agama) kita kerap menganggap diri kitalah mahluk yang paling cerdas, bermoral dan mempunyai rasa (merasa) sebagai mahluk bertanggungjawab, memiliki derajat tertinggi, dan banyak lagi "asumsi sepihak" kita yang disepakati hanya oleh kita. Menggelikan memang.
Lalu, apa dan di manakah "kelebihan" yang digaung-gaungkan itu tatkala kita berprilaku tak lebihnya dari seekor anjing terjepit yang ditolong?
Moral macam apakah yg kita banggakan ketika kita "memakan" santapan dari hasil keringat orang lain? Dan sikap bertanggungjawab model apa yang kita puji di saat sebuah pekerjaan yang dipercayakan kepada kita kerap kita anggap sebagai pemaksaan padahal sebenarnya adalah kewajiban? Dan, terutama, sejauh manakah kita mengenal diri kita sehingga dengan mudahnya kita sangat mengenal pribadi orang lain?
Kemudian, perbedaan apa pula yang dimiliki oleh kita dan babi yang kasmaran tadi? Jawabannya tentu mudah, manusia mengenal teknologi, babi tidak. Manusia mampu berkomunikasi dengan mudah, bahkan kirim-kiriman by appsave" href="#37024706"> foto , buka akun facebook dan banyak lagi yang tidak mungkin si babi memilikinya.
by appsave" href="#37024706">Jadi, apa kesimpulan yang dapat kita ambil atas situasi yang demikian? Tentunya banyak. Salah satunya adalah, jika kita hanya "merasa" bertanggungjawab, seekor babi juga demikian. Jika kita dapat merasakan (jatuh) cinta, babi juga demikian. Dan, yang paling kerap kita lupakan adalah, aktualisasi "bentuk rasa tanggungjawab". //