Awal Pembatakan Suku
Ekspansi memperluas jajahannya diyakini membuat semakin lemah kekuasaan Kerajaan Haru. Rakyat Haru banyak yang mencari tempat-tempat aman di daerah pegunungan yang kemudian mendirikan kerajaan-kerajaan baru sebagai wujud pemerintahan yang masih bercorak Haru/ Aro yang dikenal sebagai Karo saat ini. Mesjid Raya Medan[/caption] Setelah runtuhnya Haru maka Suku Karo atau Rakyat Haru tidak lagi pernah dipimpin oleh satu pemerintahan rakyat, tapi melainkan menjadi beberapa kerajaan yang dikenal dengan sibayak . Di saat melemahnya Kerajaan Haru, datang lagi utusan Kerajaan Samudera Pasai dari Aceh untuk melakukan exspansi wilayahnya ke arah bekas Kerajaan Haru tersebut dengan mengawini Putri Hijau atau Sehngenana beru Sembiring Meliala.
Kekalahan ini praktis menyebabkan daerah Haru nyaris tak bertuan. Sultan Samudera Pasai pada masa itu kemudian mengutus dan menempatkan Gocah Pahlawan (yang panglima Perang Aceh dalam perang menaklukkan Putri Hijau) sebagai perwakilan Sultan Samudera Pasai di Deli. Gocah Pahlawan nantinya melepaskan diri dari Aceh dan mendirikan kerajaan baru dikenal sebagai Kesultanan Deli. // Dahulu istananya Sultan Deli di Labuhan Deli. Asosiasi Perkebunan Tempai Deli (Deli Maschapij) kemudian menghadiakn Istana Maimoon dan Mesjid Raya di lokasinya yang sekarang. Gocah Pahlawan mengawini Nang Baluan beru Surbakti, saudari kandung Datuk Sunggal yang dari merga Karo-karo Surbakti. Oleh Datuk Sunggal, dinobatkanlah Gocah Pahlawan sebagai Sultan yang pertama di Kesultanan Deli. Datuk Sunggal yang dari Karo-karo Surbakti[/caption]
Pembatakan terhadap Suku Karo merupakan taktik Penjajahan Belanda untuk memecah belah (devide et impera ) antara Suku Karo dan Suku Melayu di Sumatera Utara. Sebelum kedatangan penjajahan Belanda di Tanah Deli/ Tanah Karo bekas Kerajaan Haru/Aro, Suku Karo dan Suku Melayu dapat hidup rukun dan berdampingan. Walaupun beda budaya, adat dan sistim kepercayaan/ relegi, kedua suku ini hidup bersama dalam suatu wilayah. Gambaran orang-orang Karo di Masa Kolonial yang saat itu masih bisa ditemukan juga di Medan dan daerah sekitarnya.[/caption] Suku Karo adalah kelompok masyarakat yang diyakini masih menjunjung kuat nilai-nilai luhur yang diwarisi nenek moyangnya, sedangkan Melayu merupakan kelompok masyarakat baru saat itu yang dipengaruhi oleh nilai-nilai Islam oleh pendatang. Sebagian orang-orang Karo belakangan dikenal juga sebagai Orang Maya-maya atau Melayu Kampung setelah masuk Islam. Ada dua budaya, adat dan sistim kepercayaan yang berbeda namun pada kenyataannya dipimpin oleh pemerintahan yang satu pada masa itu di Deli yang, bagi orang-orang Karo, merupakan Karo Jahe (Karo Hilir). Sebagian lagi dari wilayah Karo (Taneh Karo) adalah Karo Dataran Tinggi (Karo Gugung).