Bakat Catur Karo Terus
Ayahnya kemudian menemukan si putra sulung yang masih kanak-kanak ini sedang bermain catur di waung kopi dengan teman karibnya.
Telah sekitar 10 menit aku berdiri di sebelah mereka. Mereka tak melirik sama sekali dan bahkan mungkin tidak menyadari aku berdiri sedari tadi di sebelah mereka. Tampaknya, apa yang kualami di masa kecil berulang kembali. Bukan karena aku seperti putraku ini sangat getol bermain catur, tapi karena ayahku, kakek dari putraku yang getol bermain catur di warung kopi sewaktu kami tinggal di Kabanjahe (Dataran Tinggi Karo).
Dulu, semasih anak-anak, aku sering disuruh ibu memanggil ayah ke warung (kami sebut kede kopi dalam bahasa Karo) untuk mengajak ayah makan bersama. Seringkali aku telah lama berdiri di sebelah ayah dan ayah tidak menoleh sama sekali karena asyik bermain catur dengan temannya. Mereka bagaikan telah masuk ke dalam dunia lain meski tubuh mereka ada di sekitar kita. Apalagi, sebagaimana umumnya laki-laki bermain catur, mereka berpikir sambil bernyanyi atau saling jawab mengikuti “kisah” permainan catur mereka.
Ayahku memang terkenal sebagai salah seorang pemain catur handal di Kabanjahe. Tapi, tak ada satupun kami anak-anaknya yang mengikuti jejaknya. Kini, setelah dewasa dan punya anak-anak, tinggal di Pulau Jawa, dunia ayah kembali muncul di depan mata. Bakat keluarga ternyata menurun ke sang putra sulung.
Bakat Karo sejak jaman pre kolonial, kolonial hingga ke generasi Cerdas Barus, Nasib Ginting dan Monang Sinulingga (ketiganya pernah menjadi pecatur andalan Indonesia di dunia internasional bersama Edhie Handoko, Utut Hadianto, dan Ardiansyah) tampaknya terus menggeliat di darah anak-anak Karo sampai masa kini dan di mana saja. // //