Banjir Bandang Memporakporandakan
Dimulai siang sampai malam bahkan sampai pagi lagi. Itu terlihat dari material yang dibawa oleh banjir. Mulai dari gelondongan kayu yang besar-besar.
Sungai Lau Jandi ini melintasi beberapa desa mulai dari hulu seperti Desa Lau Kidupen, Pernantin, Ketawaren, Jandi, Kidupen, Jaberneh, Pergendangen, Gunung dan seterusnya ke arah hilir. Lau Jandi persis membelah lokasi pertanian/ persawahan utama Desa Kidupen. Mungkin lebih dari 50% lahan pertanian desa ini ada di seputaran DAS Lau Jandi.
Seperti dikabarkan saudara Cornelius Onel Ginting Munte dari kesain Rumah Padang Desa Kidupen yang meliput langsung. Banjir bandang ini datang menghantam lahan pertanian warga Desa Kidupen pada Hari Sabtu dinihari 18 April 2015, diperkirakan sekitar Pkl. 03.00 wib. Di saat itu, warga Kidupen dan sekitarnya terlelap tidur melepas istirahat di suhu udara yang begitu sejuk.
Mugkin saja warga desa baru mengetahui di pagi hari, di saat mereka terbangun atau berencana berangkat ke lading. Betapa kagetnya mereka melihat bekas banjir. Datangnya seperti pencuri di saat warga terlelap.
Keindahan alam yang begitu mempesona selama ini terasa sulit untuk memulihkannya. Mungkin puluhan tahun ke depan baru dapat pulih. Itu pun dengan syarat seluruh warga mulai dari hulu hingga hilir harus menjaga keseimbangan lingkungan. Tapi, beberapa tokoh masyarakat baik di Kidupen maupun di perantauan tetap memberikan semangat dan rasa optimis kepada warga setempat untuk memulihkan keindahan alam seperti semula. Baik dengan menghubungi langsung atau melalui media soial facebook, dll. Kidupen sebagaimana terlihat dari satelit beberapa hari sebelum banjir bandang kemarin[/caption]