Beda Nabi Dengan — Sorasirulo
Sorasirulo

Beda Nabi Dengan

Budaya ·
Oleh: Plato Ginting (Yogyakarta) Dalam imajinasiku, seniman dan nabi itu memiliki persamaan, tetapi mereka juga memiliki perbedaan yang mencolok. Ingat, ini hanya imajinasiku. Aku memang terbiasa berimajinasi ke sana ke mari dan kadang ngawur. Hahahaha. Untuk itu, pertama-tama aku ingin minta maaf terlebih dulu jika ada kata-kata yang kurang berkenan.

Persamaan nabi dan seniman bagiku adalah mereka sama-sama melayani. Bedanya, nabi memang sejatinya melayani, namun mereka cenderung menggurui, sedang orang-orang pada umumnya tak suka digurui. Itulah mungkin makanya ada istilah "nabi ditolak di kampungnya sendiri". Adapun seniman kebalikannya. Mereka benar-benar hadir untuk melayani. Dalam istilah yang lebih sederhana, mereka hadir untuk menghibur orang-orang dengan karya-karya yang dihasilkannya. Itulah sebabnya seniman lebih disukai daripada nabi. Dalam konteks ini, yang aku maksud, disukai di kampungnya sendiri.

Seniman dicintai di kampungnya sendiri. Begitu inti yang ingin aku bahas dalam tulisan ini. Aku ambil contoh berikut. Kalau kam merasa diri orang Karo, kam akan merasakan sesuatu yang istimewa ketika melihat Tanta Ginting mengenakan pakaian khas Karo, misalnya. Tanpa kita sadari, perasaan itu sebenarnya sangat jujur, karena kita merasa memiliki. Ketika penyanyi Karo itu membuat merga atau beru Simalungun[/one_fourth]

Lebih gamblangnya lagi, aku ambil contoh lain, mengapa penyanyi-penyanyi Karo yang bernyanyi dalam album Simalungun harus mengubah merga atau beru mereka? Tidak lain adalah karena alasan yang aku sebutkan di atas. Seniman lebih dicintai di kampungnya sendiri. Ketika penyanyi Karo itu membuat merga atau beru Simalungun, orang-orang Simalungun akan menganggap para penyanyi ini berasal dari kampung mereka sendiri. Dengan begitu, mereka lebih mudah diterima.

Lalu, apa poin pentingnya? Seperti yang aku singgung dalam tulisanku sebelumnya, bahwa masyarakat Karo sebenarnya sangat luar biasa dalam mengapresiasi karya-karya seniman Karo. Terbukti dengan musik Karo masih menjadi tuan rumah di kampung sendiri. Semoga aku tidak salah dalam hal ini. Terbukti dengan tingginya minat beli terhadap karya-karya seniman Karo, khususnya musik. Kisah Beidar Sinabung yang dituturkan oleh Juara R. Ginting di gedung teater Utrecht (Belanda)[/caption]

Hal inilah yang membuatku sedikit menyayangkan kondisi musik Karo sekarang ini. Mestinya seniman menjaga hubungan emosional yang baik ini, antara masyarakat dan para seniman. Seniman Karo harus merasa lebih bertanggungjawab atas karya yang mereka hasilkan, karena masyarakat sebenarnya sangat mencintai senimannya.

Dengan membuat karya yang hanya berfokus pada materi atau uang maka sebenarnya seniman telah menghianati 'hubungan istimewa' antara penikmat seni dan masyarakat. Sejatinya, seniman memang pelayan, dan masyarakat adalah tuannya. Bukan sebaliknya.

Itulah sebabnya seniman makan dari suka rela masyarakat yang menyisihkan sedikit rejekinya agar seniman bisa hidup layak dan tetap berkarya. Masyarakat juga butuh hiburan. Saling membutuhkan. Inilah hubungan khusus yang aku maksud.

Di Jogja ini kita sering membuat istilah "ngamen". Baik itu tampil di panggung yang super mewah, kita tetap menyebutnya ngamen karena kita hidup dari keikhlasan para penonton. Semoga aku tidak terlihat terlalu berlebihan dan terlalu 'romantis' menulis tulisan ini.

Mejuah-juah! //