Beda Nabi Dengan
Persamaan nabi dan seniman bagiku adalah mereka sama-sama melayani. Bedanya, nabi memang sejatinya melayani, namun mereka cenderung menggurui, sedang orang-orang pada umumnya tak suka digurui. Itulah mungkin makanya ada istilah "nabi ditolak di kampungnya sendiri". Adapun seniman kebalikannya. Mereka benar-benar hadir untuk melayani. Dalam istilah yang lebih sederhana, mereka hadir untuk menghibur orang-orang dengan karya-karya yang dihasilkannya. Itulah sebabnya seniman lebih disukai daripada nabi. Dalam konteks ini, yang aku maksud, disukai di kampungnya sendiri.
Seniman dicintai di kampungnya sendiri. Begitu inti yang ingin aku bahas dalam tulisan ini. Aku ambil contoh berikut. Kalau kam merasa diri orang Karo, kam akan merasakan sesuatu yang istimewa ketika melihat Tanta Ginting mengenakan pakaian khas Karo, misalnya. Tanpa kita sadari, perasaan itu sebenarnya sangat jujur, karena kita merasa memiliki. Ketika penyanyi Karo itu membuat merga atau beru Simalungun[/one_fourth]
Lebih gamblangnya lagi, aku ambil contoh lain, mengapa penyanyi-penyanyi Karo yang bernyanyi dalam album Simalungun harus mengubah merga atau beru mereka? Tidak lain adalah karena alasan yang aku sebutkan di atas. Seniman lebih dicintai di kampungnya sendiri. Ketika penyanyi Karo itu membuat merga atau beru Simalungun, orang-orang Simalungun akan menganggap para penyanyi ini berasal dari kampung mereka sendiri. Dengan begitu, mereka lebih mudah diterima.
Lalu, apa poin pentingnya? Seperti yang aku singgung dalam tulisanku sebelumnya, bahwa masyarakat Karo sebenarnya sangat luar biasa dalam mengapresiasi karya-karya seniman Karo. Terbukti dengan musik Karo masih menjadi tuan rumah di kampung sendiri. Semoga aku tidak salah dalam hal ini. Terbukti dengan tingginya minat beli terhadap karya-karya seniman Karo, khususnya musik. Kisah Beidar Sinabung yang dituturkan oleh Juara R. Ginting di gedung teater Utrecht (Belanda)[/caption]