Beradu Nasib Di Kaki
Mereka berdua adalah warga Desa Gambir yang ditemui oleh tim Sora Sirulo di dekat rumahnya di Desa Gambir beberapa hari lalu.
“Memang benar, Desa Gambir ini sudah disuruh oleh pemerintah untuk dikosongkan. Kami juga diberikan uang tunai sebesar Rp 5.600.000/ KK untuk biaya mengontrak rumah dan ladang. Tapi uang sebesar itu tidaklah mencukupi karena warga Desa Gambir tidak disediakan tempat untuk lokasi pengungsi. Kami semua disuruh mengontrak rumah masing-masing. Di Kota Kabanjahe biaya kontrak rumah saja mencapai Rp. 3.000.000 per tahun. Belum lagi biaya untuk menyewa ladang per tahunnya. Biaya makanan kami dari mana?’’begitulah kata Lulu. Nande Esra br Milala juga mengatakan kalau mereka terpaksa kembali ke desanya untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga mereka. Desa Gambir dengan latar belakang Gunung Sinabung yang telah kering kerontang karena sapuan awan panas. Di foto terlihat juga sebuah pohon yang dalam bahasa Karo bernama Batang Buah yang sering ditanam di kampung-kampung tradisional.[/caption] “Kami dengan rasa takut dan keterpaksaan harus kembali ke Desa Gambir ini. Kalau tidak kembali ke sini, keluarga kami akan mati kelaparan. Di desa ini aku mempunyai satu ladang yang tidaklah luas, tapi di ladang itu sudah ada pohon kopi yang sudah berbuah. Dari situlah sekarang sumber makanan keluarga kami,” kata Nande Esra. Mereka mengakui seewaktu sedang bekerja di ladang mereka selalu ketakutan Gunung Sinabung bisa meletus sekonyong-konyong mengeluarkan awan panasnya. Desa Gambir tepat di bawah Gunung Sinabung.