Berdamai Itu — Sorasirulo
Sorasirulo

Berdamai Itu

Budaya ·
Berdamai Itu
Oleh: Kazpabeni E.E. Ginting (Jambi)

Dua orang adik dari bapak kami (Pa Tengah) memilih jalan hidupnya menjadi seorang Muslim. Itu sudah dari sejak lama. Adik-adik sepupuku itu sudah 'besar', malah ada yang sudah kuliah. Kakakku, dalam pernikahannya diberkati di Gereja Katolik St. Fransiskus Asisi Berastagi. Kini mereka sudah punya dua putra.

Dengan dua keadaan tersebut di atas barangkali perlu saya ingatkan bahwa saya ini Sarjana Teologi, Calon Pendeta. Tapi, saya tidak pernah menutup-nutupi perbedaan itu. Mengapa harus ditutupi? Itulah kekayaan.

Dulu saya ingat, setiap malam tahun baru kami kumpul di rumah nenek. Waktu makan malam, kami yang tidak mengharamkan makan dengan menu tasak telu (masakan khas Karo dengan darah ayam yang dimasak sebagai campurannya). Sedangkan yang mengharamkan getah (darah), makan dengan menu yang berbeda, tentunya hallal. Tidak ada tulisan "khusus Kristen" atau "Khusus Islam" di panci itu. Kami duduk bersama, lalu sebelum makan saya memimpin doa. Saya lihat keluarga yang Muslim ikut menunduk.

Makanannya tetap lezat dan nikmat.

Kira-kira sudah 5 bulan, setelah merasa repot masak sendiri, saya bayar makan di warung Bp. Cindy. Dia suku Jawa beragama Islam. Piring dan sendok untuk makan disediakan. Tidak pernah saya menemukan piring dan sendok di tempat sampah dekat rumah mereka. Berarti sponge cuci piring cukup untuk membersihkannya setelah saya pakai. Tidak perlu sampai diharamkan.

Saya makan di warung mereka, saya selalu berdoa sebelum makan di sana. Anaknya si Cindy pernah bertanya: "Abang Vicaris berdoa, ya? Sama, kami juga ada doa sebelum makan."

Lantas, jika berdamai itu bisa sederhana, mengapa kita harus bersusah payah untuk merusak keharmonisan hidup? // //