SEFER NANDA SITEPU. KABANJAHE. Bangunan terlihatm di foto bisa dikatakan rumah adat Karo juga walau bentuknya tidak setradisional bangunan rumah adat Karo yang lebih tua. Bangunan seperti ini dibangun oleh orang-orang Karo di beberapa kampung setelah kembali dari Mengongsi saat Agresi Militer Belanda (1947-1949).
Sebelum berangkat mengungsi, para lascar membakari rumah-rumah adat yang beratap ijuk agar para warga secepatnya berangkat meninggalkan kampung halaman mereka tanda penolakan terhadap Negara Sumatra Timur (NST) bentukan Belanda dan setia pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pimpinan Soekarno-Hatta.
Sepulang dari pengungsian, mereka membangun kembali rumah-rumah yang ditempati oleh 4 atau 8 keluarga (jabu ). Secara pengorganisasian penggunaannya persis sama dengan rumah adat Karo yang dibakar, tapi gaya arsitekturnya sudah jauh lebih sederhana.
Rasa ingin kembali ke Desa Berastepu membuat berpikir jauh. Kembalipun, harus tinggal dimana dengan kondisi rumah yang tidak layak huni lagi?
Miris melihat semua keadaan. Pintu tertutup, tetapi atap rumah terbuka karena bocor. Harus bagaimana?
Begitulah perasaan menatap rumah yang terdapat di Desa Berastepu (Kecamatan Simpang Empat) , tepatnya di Kesain Rumah Tanjung yang cikal bakalnya merga Perangin-angin Tanjung.
Dapat ditambahkan, Berastepu terdiri dari 8 kesain . 4 kesain yang terdapat di bagian julu (Rumah Julu, Rumah Suah, Rumah Sendi, Rumah Bale) didirikan oleh merga Milala. 4 kesain lainnya yang terdapat di bagian jahe (hilir) oleh Sitepu Batunanggar (Rumah Mbelin), Sitepu Ulunjandi (Ulunjandi), Sinisuka (Rumah Suka) dan Tanjung (Rumah Tanjung). // //