Buruh Tani Asal Samosir Di
RIKWAN SINULINGGA. BERASTAGI. Damai dan tenang. Inilah yang dirasakan ketika melihat kumpulan aron (kelompok pekerja tani) di tengah perladangan seputar desa Ajijahe (Kecamatan Tigapanah, Dataran Tinggi Karo).
Hiruk pikuk perkotaan seakan hilang dari dunia mereka, apa lagi hiruk pikuk politik menjelang Pilkada seakan tak digubris.
"Siapa pun yang akan terpilih menjadi bupati di Kabupaten Karo ini, tak terlalu berdampak bagi hidup kami. Kami tetap harus berjuang menguras tenaga sampai keringat terakhir untuk bisa makan," jelas ibu Simarmata asal Samosir yang sudah 22 tahun menjadi buruh tani, atau disebut aron dalam bahasa Karo, di seputaran Kota Berastagi. Buruh tani (aron) yang umumnya dari Suku Batak sedang beristirahat sehabis makan siang di sebuah perladangan sayur milik warga setempat, Suku Karo, di bagian luar Kota Berastagi (Dataran Tinggi Karo)[/caption]
Berbagai pekerjaan mereka lakukan dengan sepenuh hati. Rejeki mereka tergantung pada kondisi harga hasil pertanian dan musim hujan. Jika harga hasil panen petani tinggi, maka pemakai jasa aron ini juga meningkat tajam. Para buruh tani yang berangkat kerja ke ladang dengan menumpang sebuah mobil pick up.[/caption]