Frankfurt Book Fair
Tahun ini Indonesia sebagai Guest of Honour, Tamu Kehormatan. Indonesia diberi kesempatan untuk sebesar-besarnya memanfaatkan even ini untuk bukan hanya menjual rights, tapi lebih dari itu, mengenalkan Indonesia dari berbagai aspek: pariwisata, budaya, kuliner dan lain-lain. Laura Bangun sedang mempresentasekan makalah tentang "Women in Publishing" di Frankfurt Book Fair 2015.[/caption] Melihat pengunjung yang demikian banyak dengan antusias tinggi, susah dipahami dunia penerbitan sedang menurun dari kejayaannya menuju ke "tidak berdayaan". Yang pesimis mengatakan demikian. Tapi melihat jumlah pengunjung (pebisnis) yang demikian banyak dan antusias maka muncul pertanyaan: "Apakah benar dunia penerbitan sedang menurun menuju ketidakberdayaan?"
Saya sudah memilih jalan hidup di dunia penerbitan, mulai dari sekolah: S1 Ilmu Perpustaan UI dan MA in Book Publishing dari Loughborough University of Technology, UK. Dulu saya mengajar "Penerbitan dan Distribusi Buku" di Jurusan Ilmu Perpustakaan UI. Kesaint Blanc presentasi buku baru dibawakan oleh Vita dan Laura.[/caption] Pada usia 25 tahun saya mendirikan PT. Kesaint Blanc Indah (Penerbitan dan Percetakan) dan sudah menjalani manis pahit bisnis penerbitan. Setiap tahun saya mengunjungi pameran buku mancanegara, berkenalan dengan berbagai bangsa sekalian membeli rights untuk diterbitkan di Indonesia. Saya sudah mengalami: percetakan kalah cepat mencetak buku memenuhi permintaan pembaca. Saya sudah pernah menjual buku, sama seperti barang lain, di hyper market besar dan laku seperti kacang goreng. Dan paling saya syukuri, semua yang saya miliki sekarang ini diberikan TUHAN melalui penerbitan.
Mereka brillian, begitu semangat dan kreatif. Dibarengi dengan pengetahuan dan pengalaman kerja yang luas mereka berhasil mengangkat dan mengembangkan Kesaint Blanc mendunia. Terkadang saya membayangkan, kalau "malekat penyelamat" ini tidak datang, tentu beberapa tahun lalu Kesaint Blanc sudah karam. Tuhan selalu bertindak tepat pada waktunya. Pada kesempatan ini Kesaint Blanc bekerjasama dengan Caravan Studio lounching buku Rebirth of Indonesia Folktales. Ada Pak Mentri Anies Baswedan bersama Laura.[/caption] Tapi, ada bayang-bayang yang menakutkan. Perubahan media karena cepatnya perkembangan teknologi. Digital dan electronic media pasti menggerus, printed matters pasti decline. Imbasnya bisa langsung dan telak. Bisa dianalogikan seperti pada era munculnya televisi. Media yang menampilkan suara dan gambar bergerak. Semua orang mengkhawatirkan, radio broadcast akan hilang. Siapa yang mau hanya mendengar sementara media lain bisa menampilkan sekalian pelakonnya. Pasti radio kalah telak dan akan hilang. Kenyataannya, radio tetap exist dan berkembang dengan menampilkan program-program kreatif.