Hilangnya Ruh Menggetarkan Dari Musik — Sorasirulo
Sorasirulo

Hilangnya Ruh Menggetarkan Dari Musik

Budaya ·
Oleh: Plato Ginting (Yogyakarta)

Musik berasal dari perasaan yang dalam dan bisa menggetarkan hati. Kita tak perlu mengkonsumsi Narkoba untuk bisa 'fly'. Dengan mendengarkan musik kita bisa merasakan hal yang tidak biasa dan susah untuk dijelaskan. Begitulah seni pada umumnya, sehingga dalam banyak literatur dunia, seni selalu menjadi bahasan yang tidak kalah penting dari ilmu-ilmu lain.

Seperti yang kita ketahui bersama, musik Karo juga dulunya digunakan untuk hal-hal yang bersifat khusus. Hadir pada acara-acara yang penting dan menjadi hal yang ditunggu-tunggu dan begitu diagungkan. Tentunya banyak hal lain yang istimewa selain musik. Namun musik adalah salah satunya yang dapat menggetarkan pendengarnya. Bahkan bisa 'fly' seperti orang-orang yang bisa seluk karena pengaruh musik.

Masih bersinggungan dengan tulisanku sebelumnya, bahwa sekarang ini, seniman dan masyarakat memperkecil 'Getaran' dalam musik Karo. Kita bisa jujur, sudah jarang kita bisa merasakan perasaan 'bergetar' ketika mendengarkan atau menyaksikan musik. Kebanyakan hanya lewat begitu saja. Sehingga tidak heran, kita merasa ringan membeli kaset seharga Rp. 10 ribu dan akan lupa meletakkan kaset itu dimana setelah kita menontonnya. Ini memang bukan hal yang amat serius untuk dibahas. Tapi kalau kita adalah orang yang merindukan hal-hal 'mendebarkan' dan bisa 'fly', mestinya kita menganggap ini hal serius.

Di tulisan sebelumnya aku membahas, ketika sebuah lagu dinyanyikan oleh 3 penyanyi berbeda dalam waktu yang berdekatan. Artinya, si penyanyi tak pernah benar-benar menjadikan sebuah lagu menjadi miliknya. Makanya kita tidak heran ketika seorang penyanyi diundang menyanyi di acara kerja tahun , dan dia tidak menyanyikan lagu yang dipopulerkannya. Bahkan, penyanyi yang menyanyikan lagunya sendiripun kita biasa saja melihatnya.

Aku tak akan membahas ini lebih dalam. Karena sebagai orang yang suka bernyanyi, kurang 'srek' kalau aku yang membahasnya. Aku akan senang kalau ada teman yang mau memberi tanggapan tentang ini.

Aku termasuk orang yang suka menonton pertunjukan musik. Aku ambil contoh lagu 'Sephia' yang dipopulerkan sheila on 7. Ketika lagu ini dibawakan oleh berbagai musisi, meskipun itu musisi sekelas Dewa 19, aku tidak merasakan getaran yang berarti. Namun ketika lagu itu dibawakan oleh Sheila on 7, aku merasakan 'getaran' yang tidak biasa.

Di sanalah aku menemukan 'ruh' lagu itu. Aku tak heran ketika membaca berita tentang konser David Foster di Jakarta yang menjual tiket Vip seharga Rp. 20 juta, dan tiket termurahnya Rp. 7 juta. Mereka bisa melakukannya karena mereka menyuguhkan sesuatu yang bisa menggetarkan pendengarnya. Dan lihatlah bagaimana pendengar mengapresiasi seniman.

Bagaimana dengan musik Karo? Apakah kita tidak pernah mau tahu tentang hal-hal seperti ini?

Lihat berbaai tanggapn di bawah.