Hut Ri Di Tigabinanga Tetap
DARUL KAMAL LINGGA GAYO & J.R. GINTING. TIGABINANGA. Tigabinanga adalah sebuah kota sangat kecil di Kabupaten Karo dengan nasionalisme yang kuat sekali, sebagaimana umumnya kampung-kampung Suku Karo. Kuatnya nasionalisme di kota kecil ini terlihat saat peringatan HUT Kemerdekaan RI kemarin dulu . Foto: DARUL KAMAL LINGGA GAYO[/caption] Karena setiap tahunnya memang sudah begitu, warga Tigabinanga dan kampung-kampung sekitarnya sudah bersiap-siap menantikan pawai HUT Kemerdekaan RI yang umumnya dilakukan oleh para pelajar SMP dan SMA setempat. Kota kecil yang terletak di perlintasan Dataran Tingggi Karo dengan Tanah Alas (Aceh Tenggara) ini tiba-tiba saja ramai dan padat. Tak berapa lama, bergiliran kelompok-kelompok pawai menampilkan pertunjukannya seperti drum band, baris berbaris, pameran hasil-hasil pertanian rakyat setempat, drama perjuangan, dan lain sebainya. Serangan dengan mariam. Foto: DARUL KAMAL LINGGA GAYO.[/caption]
Tigabinanga pernah menarik perhatian sejarawan terkenal dari Australia, Prof. Anthony Reid. Menurut Reid, lama sekali orang-orang Karo menolak segala hal berbau Barat atau modernisasi karena Suku Karo memang sangat menentang penjajahan Belanda sejak awal-awalnya. Hingga tahun 1960an, sangat sedikit orang Karo yang terpelajar, berbeda halnya dengan orang-orang Batak dan Mandailing yang sudah lama menganggap positip sistim pendidikan yang diperkenalkan oleh Belanda. Bagi Karo, pergi ke sekolah berarti menjadi antek-antek Belanda. Foto: DARUL KAMAL LINGGA GAYO[/caption] Namun, sejak terjadinya G30S 1965, pandangan orang-orang Karo mengenai pendidikan sekolah berubah secara radikal. Hingga puncaknya di pertengahan 1970an 1% orang Karo mencapai tingkat pendidikan sarjana (S1). Prosentase ini secara suku, kata Reid, adalah tertinggi di Indonesia.