Jokowi Dibully, Jokowi Jawab Dengan
Namun, melihat fenomena bullying yang semakin gencar dan kadang tidak memakai bahasa rasional cenderung klenik dan musyrik. Seperti biasa, hal tersebut ditanggapi rilexs oleh Jokowi dengan mengatakan "Aku Ora Popo".
Tapi seperti biasa Jokowi merupakan tokoh politik yang memerankan eksistensialismenya dengan bahasa simbol, bahasa simbol yang arahnya menjawab bully terhadap Jokowi dengan terobosan terobosan kreatif menata bangsa lebih baik. Terobosan yang cenderung OUT OF THE BOX dari proses beliau menyerap aspirasi, harapan, keinginan dan keluhan yng diperolehnya dari mendengar rakyat atau dalam bahasa Jokowi, blusukan.
Bullying terhadap presiden memang bukan hal baru dalam proses berdemokrasi di negara kita sejak kran Reformasi dibuka secara besar-besaran. Mungkin dulu kita masih ingat jaman dimana negara ini cenderung otoriter saat Soeharto berkuasa, seolah-olah membully presiden dianggap tabu serta pamali bahkan untuk berpendapat di depan publik yang konsteksnya beda dengan visi presiden dan kalau cenderung kritis pasti langsung "disenyapkan". ruh Reformasi[/one_fourth]
Saat Reformasi, gerakan bullying presiden semakin gencar saat era SBY berkuasa dimana rakyat kebanyakan sudah beradaptasi penuh terhadap ruh Reformasi yang lebih menonjolkan kebebasan berpendapat dan berserikat di muka umum yang sebenarnya sudah ada sejak dulu, namun menunjukkan arahnya saat Reformasi bergulir.
Memang, pada saat awal-awal Reformasi, masih takut-takut berani saat Gusdur dan Mega berkuasa. Tapi, ketika era SBY dimana wahana media sosial sebagai sarana baru bagi rakyat terutama kaum muda untuk mengekpresikan pendapatnya mengkritisi habis-habisan kebijakan SBY, saat itu yang negatifnya adalah sudah mengarah.
Pokoknya, saat itu, SBY salah di semua kebijakannya. Tambah gencar ketika banyak kasus korupsi yang melibatkan elit demokrat dan mentri kabinet SBY. Bahkan suatu waktu karena gencarnya serangan yang bertubi-tubi membuat SBY merasa tidak kuat lagi, karena sosok SBY kala itu dicitrakan sebagai sosok bijak oleh tim medianya maka ketika bullying sudah semakin panas dan tidak kuat lagi, SBY hanya bisa memainkan retorika di media dengan bahasa ciri khas SBY yaitu: "Saya Prihatin" atau biasa SBY ngumpulkan Pimred Media untuk curhat dan mengeluh dari setiap bullying yang terjadi.
Kembali soal Jokowi. Gimana Jokowi menyikapi bullying yang begitu gencar akhir-akhir ini?
Syukur alhamdulillah sampe tulisan ini direlease tidak ada satu katapun bahasa mengeluh dari Jokowi terhadap semakin gencarnya serangan bullying terhadap Jokowi . Karya CS REFORM #CatatanJelangSetahunJokowiJK #OptimismeJokowi //