Karo Berburu Siput Di — Sorasirulo
Sorasirulo

Karo Berburu Siput Di

Karo Berburu Siput Di
Ketika penulis (kiri) mengikuti sebuah perburuan cih di Jambi[/caption]

BASTANTA P. SEMBIRING. JAMBI. Cih (bahasa Karo), merupakan sejenis siput yang hidup di sungai air dangkal. Biasanya hidup di pasir, di balik bebatuan, atau sampah-sampah di sungai. Bagi Suku Karo, cih biasa diolah menjadi lauk saat makan. Biasanya digulai dengan menggunakan santan dan biasa dicampur (digulai bersama) dengan ubi ataupun jambe (labu kuning).

Gulai cih ini bisa juga dikatakan salah satu penganan khas dan favorit di kalangan Suku Karo.

Saat musim kemarau tiba, orang-orang Karo yang tinggal di kampung, yang dekat dengan aliran sungai, biasanya suka mencari cih. S eperti yang baru-baru ini dilakukan oleh sekelompok orang Karo di Sungai Lumahen, Simpang Rambutan (Jambi).

Sebelum dimasak, biasanya cih-cih direndam selama lebih kurang 3 hari, agar pasir, lumpur dan bau yang melekat luntur, sehingga tidak ada gangguan seperti berpasir dan berlumpur atau bau yang tak sedap saat menikmatinya.

Cara menikmati cih ini pun unik, yakni dengan dihisap/disedot langsung dengan mulut. Jadi, saat menggulainnya, cih hanya dibersihkan, sedangkan cangkangnya dibiarkan utuh dan hanya sedikit di bagian belakang dipotong agar bumbu masuk dan meresap ke bagian daging dan juga mempermudah saat menghisapnya.

Sebagian orang, khususnya yang memiliki gigi tanggal atau sedang sariawan, bisa menikmatinya dengan cara mencongkel dagingnya menggunakan lidi. Namun, kebanyakan orang lebih suka menikmatinya dengan menghisap/menyadot atau dalam bahasa Karo-nya icep-cep (dihisap), karena di situlah kenikmatan gulai cih itu. // // // "); // ]]>