Karo Jahé Bukan Suku Pendatang Di Pesisir
Jahé-jahé (jahé = hilir) merupakan sebutan bagi wilayah Karo di bagian hilir, atau di Pesisir Timur Sumatera bagian Utara yang disebut juga Dusun/Karo Jahé. Kalak jahé-jahé dipakai untuk menunjuk kepada orang Karo yang berada di Dataran Rendah yang tentunya sebutan ini dilontarkan oleh orang-orang Karo di gugung (teruh deleng / Dataran Tinggi Karo).
Tidak diketahui secara pasti kapan sebutan (jahé-jahé ) ini mulai dipergunakan. Dalam cerita lisan Suku Karo yang diceritakan kembali oleh H. Biak Ersada Ginting dalam tulisannya “Perpindahan Penduduk” yang disusun kembali oleh Roberto Bangun dalam buku Mengenal Orang Karo (1986), menyebutkan: karena terjadinya perang yang terus menerus di negeri asal (di pesisir), maka pada periode tertentu terjadi migrasi (perpindahan) besar-besaran orang Karo dari pesisir ke gugung (dataran tinggi). Terutama pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607 – 1636): terjadi apa yang disebut dengan Mburo bicok pertibi .
Orang Karo yang mengungsi dari Dataran Rendah (jahé ) ke Dataran Tinggi inilah kemudian oleh masyarakat Karo di Gugung disebut kalak jahé-jahé ataupun Karo Jahé. Namorambe, sebuah kampung Karo di Deliserdang sebelum jaman kolonial[/caption]