Karo Jauh Lebih Tua Dari
Sianjur Mulamula merupakan salah satu nama desa dan sekaligus nama kecamatan di Kabupaten Samosir (Sumatera Utara). Menurut kepercayaan masyarakat Batak, di desa inilah orang Batak pertama diturunkan. Menurut mitos yang mengemuka di kalangan orang Batak, kehidupan pada awalnya hanya di dunia atas. Di sana, tinggal Ompu Debata Mulajadi na Bolon, beserta tiga dewa lain ciptaanya (Batara Guru, Soripada, dan Mengalabulan) bersama keturunan mereka.
Sampai suatu ketika, saat anak perempuan Batara Guru bernama Deak Parujar berumah tangga. Dia ditunangkan dengan Raja Odapodap, putra dari Mangalabulan. Karena Deak Parujar tidak menyukai tunangannya yang buruk rupa. Dia mengulur waktu dengan berjanji menikah setelah selesai menenun tujuh gumpalan benang kapas. Debata Mulajadi yang mengetahui siasat Deak Parujar melempar benang itu hingga jatuh dari khayangan. Ingin menyelamatkan tenunannya, Deak Parujar meniti benang itu hingga terayun-ayun di antara lautan tak terbatas dan dunia kayangan.
Deak Parujar yang merasa enggan kembali ke khayangan, kemudian meminta Mulajadi memberikannya tanah sebagai tempat berpijak. Permintaan itu dikabulkan. Dengan segenggam tanah tersebut, Deak Parujar membentuk daratan di tengah-tengah lautan. Makin lama, bumi ciptaannya pun membesar.
Debata lalu mengirim Naga Padoha untuk membawa Deak Parujar ke dunia atas. Utusan Debata itu mencabik-cabik bumi ciptaan Deak Parujar. Namun, Deak Parujar berhasil mengalahkan Naga Padoha. Bongkahan tanah yang tercabik-cabik Naga Padoha menjelma menjadi pulau-pulau.
Deak Parujar memutuskan tinggal di bumi ciptaannya itu. Sebagai hadiah, sang ayah, Batara Guru, mengirimkan sebuah kotak yang begitu dibuka keluarlah berbagai makhluk dan tanaman memenuhi bumi baru. Deak Parujar menyebut kampung barunya itu Sianjur Mulamula.
Tidak disangka-sangka, Debata mengirim Raja Odapodap ke dunia baru itu. Akhirnya, Deak Parujar pasrah menerima takdirnya dan menikah dengan Raja Odopodap. Dari perkawinan itu lahir anak kembar laki dan perempuan yang dinamai Sibursok dan Sitatap sebagai manusia mula-mula. Dari anak kembar itu diturunkan raja-raja Batak, Raja Uti, Simarimbulubosi, Raja Sisingamangaraja, dan Raja na Siak Bagi yang menjadi perpanjangan tangan Debata di dunia.
Konon, Deak Parujar mengundang penghuni khayangan ke Sianjur Mulamula untuk menghadiri upacara pemberian nama anak-anak mereka. Para penghuni Dunia Atas itu datang melalui puncak Pusuk Buhit menuju ke Sianjur Mulamula di lereng gunung itu. Meneliti Sianjur Mulamula[/two_third]
Mengingat begitu kental mitos di tengah-tengah masyarakat Batak terkait anggapan bahwa Sianjur Mulamula merupakan tempat orang Batak pertama diturunkan, akhirnya seorang arkeolog yang juga merupakan Ketua Balai Arkeologi (Balar) Medan, Ketut Wiradnyana, tertarik melakukan penggalian di daerah ini. Dari hasil penggalian yang dia lakukan, Ketut menyimpulkan bahwa wilayah Sianjur Mulamula tergolong masih baru didiami oleh manusia, yakni sekitar 600-1000 tahun belakangan. Hasil eskavasi dan penelitian yang Ketut lakukan mengindikasikan bahwa etnik Batak ternyata masih termasuk yang termuda di Indonesia. Salah satu ceruk di Loyang Mendale, Gayo (Aceh Tengah) tempsat penggalian kerangka manusia purba oleh tim Balai Arkeologi Medan.[/caption]
Dalam seminar Telaah Mitos dan Sejarah Dalam Asal Usul Orang Batak yang diselenggarakan oleh Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Negeri Medan (Unimed) tempo hari, keberadaan kehidupan awal di Sianjur Mulamula ini kemudian diperbandingkan Ketut dengan hasil penggalian lain yang dia lakukan di Loyang Mandale, Loang Ujung Karang, Aceh Tengah beberapa tahun lalu. Dari penggalian tersebut ditemukan kerangka manusia purba yang diperkirakan telah berusia 5000 tahun. Berdasarkan hasil serangkaian tes yang dilakukan, DNA kerangka manusia purba yang ditemukan tersebut identik dengan DNA orang Gayo dan Karo.